Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Harapan adalah senjata yang ampuh bahkan, ketika semua hal lainnya hilang.”
(Nelson Mandela)
Sebuah Kesaksian
Masih ingatkah Anda akan sebuah kisah pilu hal ‘kokohnya pengharapan seorang pria’ yang selamat dari tragedi tenggelamnya sebuah kapal?
Walaupun hanya dengan berpeluk erat pada sepotong papan, pria kokoh itu akhirnya diselamatkan, setelah dua hari dan dua malam terombang-ambing oleh gelombang di tengah samudra.
Sesampainya di bibir pantai, dengan sangat bersemangat dikisahkannya, mengapa dia akhirnya dapat menyelamatkan dirinya?
“Yang masih sempat saya ingat-ingat di saat dipermainkan oleh gelombang laut ialah, bahwa saya tidak akan mati. Saya sangat percaya akan hal itu. Itulah sekeping harapan saya!” (Demikian pengakuan pria kokoh itu).
(Dari berbagai Sumber)
Merawat Harapan
Bagaimana caranya agar kita tetap bisa merawat sebuah pengharapan di dada ini? Dengan meratap dan memberontak? Dengan bekerja keras dan pasrah berdoa? Ataukah dengan hanya duduk sambil meratap dan berharap akan belas kasih Tuhan?
Orang Buta yang Membawa Lentera
Seorang lelaki membawa lentera di jalan di waktu malam. Di jalan ia berjumpa dengan seorang bapak yang membawa pelita. (Padahal Bapak itu tampaknya buta).
Jadi, ia bertanya, “Pak, apakah Anda seorang buta?”
“Ya,” sahutnya.
“Jika demikian, untuk apa Anda membawa pelita?”
“Saya membawanya agar orang tidak tersandung, karena saya,” jawab lelaki itu.
(D.L. Moody)
Orang Buta yang Membawa Lentera
Ada nasihat bijak dari sang buta ini, “Angkatlah pelita hidup kita tinggi-tinggi. Nyalakanlah dengan cahaya Surga yang terang agar orang tidak tersandung, karena Anda.”
Pelita itu Pengharapan
Saya masih sempat terkesima dengan kesaksian kekokohan berpengharapan dari pria dengan sepotong papan itu.
Bukankah lewat kesaksiannya, ia justru telah memberikan sebuah keyakinan kepada kita, bahwa betapa pentingnya sekeping pengharapan di dada kita ini.
Juga kesaksian dari pria buta yang membawa lentera di malam buta itu. Dia sungguh sadar, bahwa betapa pentingnya menyalakan api pengharapan di dalam dada ini, apalagi di kala kita sedang bergulat di dalam kekalutan hidup.
Bukankah lentera itu adalah simbol sebuah pengharapan?
Mari kita masing-masing sudi membawa sebuah lentera di dalam ziarah hidup ini, agar tidak seorang pun yang tersandung, karena ulah kita!
…
Kediri, 1 Februari 2025

