| Red-Joss.com | Kita mudah melakukan kesalahan, tapi tidak mudah menerima saat diingatkan atas kesalahan kita. Alasannya sederhana: kita merasa diri paling benar.
Semua pribadi, baik yang muda sampai yang tua, mereka mempunyai kecenderungan yang sama, yakni merasa diri paling benar.
Bisa jadi, hal ini dipengaruhi pola pendidikan yang kita terima, baik di tengah keluarga atau sekolah, yang tanpa disadari membentuk pribadi kita cenderung: merasa diri paling benar. Sehingga sulit sekali bagi kita untuk menerima masukan, nasihat, atau teguran dari orang lain.
Jika ditegur, dinasihati, dan diberi masukan, kita tidak mengucapkan terima kasih. Sebaliknya justru kita menjadi tersinggung, marah, dan berusaha meyakinkan diri sendiri dan cerita kepada orang lain, bahwa merasa diri paling benar.
Sesungguhnya kecenderungan dari pribadi yang merasa diri paling benar adalah mudah mengkritik, menyalahkan dan mengatakan orang lain itu tidak benar. Sehingga kita banyak kontradiktifnya.
Dalam hal ini Tuhan Yesus sangat tegas untuk mengingatkan pribadi yang tidak mengenal diri sendiri itu. IA berkata ‘to the point, langsung. “kamu salah, tidak benar, bohong, menipu, munafik, dan kamu yang kamuflase.”
Apakah mereka berubah? Di kisah-kisah selanjutnya, mereka tidak berubah, dan tetap merasa diri paling benar.
Sejatinya, semangat perubahan itu datang, jika kita mau membuka hati untuk mohon rahmat Allah agar IA berkenan meneguhkan hati kita dalam melalui jalan pertobatan ke arah hidup baik dan benar. Bertobat untuk menjadi bijaksana.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

