Tubuh anak-anak itu lemah dan tidak bisa melawan atau membela diri saat hidup mereka diancam atau dalam bahaya. Senjata mereka adalah ‘tangisan’. Itu pun harus ada yang bisa menerjemahkannya, makna tangisan anak itu membutuhkan apa?
Banyak anak yang telah jadi korban dan atau dikorbankan. Misalnya, atas nama cinta orang-orang ‘bercinta’. Tapi dengan jahat, banyak di antara mereka yang mengaborsi buah cintanya sendiri. Anak-anak dibunuh oleh mereka yang berhati jahat. Berapa juta anak yang sudah jadi korban aborsi ini. Jiwa anak itu menangis, tapi suara tangisan mereka tidak didengar.
Juga berjuta kisah pilu dari anak-anak yang ditelantarkan oleh orangtuanya, karena perpisahan atau perkawinan yang kandas. Hati anak-anak itu jadi terluka, bahkan banyak anak yang traumatik. Selain itu di beberapa belahan dunia masih berlangsungnya konflik antar golongan dan perang, anak-anak harus mengungsi dari tanah kelahirannya sendiri.
Sesungguhnya harus ada yang bisa menerjemahkan, menyuarakan dan membela suara anak-anak itu. Seperti dalam Injil, “Rachel weeps for her children” (Mat 2: 18). Suara tangisannya terdengar di Rama: Tangisan duka, kesedihan, penderitaan, dan tangisan kehilangan.
Stop! Anak-anak itu jadi korban dan dikorbankan. Gereja Katolik terus berdiri dengan semangat ‘Pro Life’ untuk membela kehidupan. Semoga suara Gereja Katolik yang menyuarakan suara tangisan anak-anak itu didengarkan dan diikuti oleh yang lain, supaya bisa membela kehidupan anak-anak itu dan menyiapkan masa depan mereka.
Rm. Petrus Santoso SCJ

