Pada Hari Minggu Adven Ketiga ini kita diundang oleh Gereja untuk merenungkan pribadi Yohanes Pembaptis, tokoh yang mempersiapkan kedatangan Almasih. Perutusan Yohanes Pembaptis ialah mempersiapkan kedatangan Sang Penyelamat, Yesus Kristus. Ia sepenuhnya menyadari diri hanya sebagai seorang utusan. Dalam kesadaran itu, ia mengarahkan murid-muridnya untuk datang kepada Yesus.
Di penjara, Yohanes Pembaptis yang mendengar tentang pekerjaan Yesus, lalu mengutus murid-muridnya untuk bertanya kepada Yesus, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?”
Pertanyaan ini mencerminkan keraguan dan kerinduan manusia, bahkan seorang Nabi, untuk memahami rencana Tuhan. Dalam jawabannya, Yesus tidak langsung mengatakan, “Ya, Akulah Dia.” Sebaliknya, Yesus meminta mereka mengamati tanda-tanda kehadiran Kerajaan Allah yang terjadi melalui karya dan pelayanan-Nya: orang buta dapat melihat, orang lumpuh berjalan, orang yang sakit kulit ditahirkan, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, dan Injil diberitakan kepada orang miskin. Ini adalah pemenuhan nubuat tentang Mesias dan sekaligus cara Yesus menegaskan identitas-Nya.
Lewat perikop ini kita diajak merenungkan beberapa hal.
- Pertama: keraguan adalah bagian dari perjalanan iman kita. Bahkan, seorang Nabi seperti Yohanes Pembaptis mengalami keraguan. Yang penting adalah bagaimana kita menghadapinya, dengan mencari dan meminta penegasan dari Tuhan. Kita belajar dari teladan Yohanes Pembaptis dan keberaniannya untuk bertanya.
- Kedua: kita diundang untuk mengenali tanda Kristus, yakni campur tangan-Nya yang mengubah hidup kita jadi lebih baik. Yesus mengajak kita untuk melihat, bagaimana karya Allah mengubah dunia kita, tanda Ia terlibat dan turut campur tangan. Kehadiran-Nya memberikan harapan, pemulihan, dan kesembuhan.
- Ketiga: yang tidak kalah pentingnya adalah, bahwa seperti Yohanes Pembaptis, kita dipanggil untuk jadi saksi bagi Kristus, menunjukkan dan menyiapkan jalan bagi-Nya dalam hidup kita dan orang lain. Sebagaimana Yohanes, kita ditantang untuk beriman di tengah badai kehidupan. Kita mungkin jadi bimbang, karena tidak selalu memahami rencana Tuhan, tapi kita dapat berpegang teguh pada janji-janji-Nya, karena Ia yang telah berjanji adalah setia.
“Ya, Tuhan, gerakkanlah hati kami untuk terus mencari, mengenali, dan jadi saksi bagi kehadiran dan karya-Mu dalam kehidupan sehari-hari. Amin.”
Ziarah Batin

