Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Segepok sapu justru terdiri dari himpunan setiap batang lidi.”
Bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa besar di dunia. Bangsa yang dikenal secara geografis sebagai bangsa yang terdiri dari ribuan pulau, etnis, suku, budaya dan adat istiadat, serta bahasa dan agama berbeda-besa.
Sungguh, masyarakat dunia pun tercengang akan eksistensi bangsa kita. Sejatinya hampir mustahil untuk dapat dipersatukan, mengingat aspek multikulturalnya. Bangsa ini sangat terkenal dengan semboyannya, “Bhinneka Tunggal Ika,” yang artinya berbeda-beda, tetapi tetap satu.
Kita tentu ingat peristiwa “Sumpah Pemuda,” yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928 oleh para pemuda dari berbagai suku. Ikrar pemersatu yang menakjubkan dunia.
Kita berbangga dengan tiga ikrar itu:
(1) Berbangsa satu, bangsa Indonesia.
(2) Bertanah air satu, tanah air Indonesia.
(3) Menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.
Sesungguhnya, kita “Menyalakan Api Persatuan” dalam hal apa dan bagaimana?
Sebagai warga negara dari sebuah bangsa besar, kita merindukan adanya persatuan di antara seluruh warga negara. Dari Sabang hingga ke Merauke. Dari Miangas hingga ke Pulau Rote. Sehingga bangsa ini sangat pantas dijuluki sebagai ‘ratna mutu manikamโ dengan semboyan saktinya, “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.”
Mengapa kita perlu terus meneriaki slogan agung persatuan? Kita pun merindukan hadirnya bangsa kita laksana seikat sapu yang ternyata terdiri dan terhimpun atas tiap-tiap batang lidi. Ada lidi etnis dan agama, lidi suku dan ras, juga lidi bahasa dan budaya.
Semoga riak-riak kecil, berupa sikap fanatisme dan radikalisme itu kian terkikis terbuang atas dasar ketulusan setiap warga negara.
Semoga yang Jawa akan kian Jawa, yang Sumatra dan Kalimantan pun kian Kalimantan dan Sumatra, yang Sunda Kecil kian kokoh dengan kesundakecilannya. Begitu juga yang Manado, Ambon, serta Papua pun tetap kian unik serta eksis.
Artinya, aneka perbedaan sebagai keunikan itu tetap dilestarikan. Justru di dalam perbedaan itu, kita semakin bersatu, karena diikat oleh dasar negara kita, Pancasila.
Mari, kita bangga menjadi warga negara yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.
Ingat selalu pesan agung Mgr. Sugiyopranoto, kita umat Katolik harus menjadi “100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia.”
Pro Ecclesia et Patria! (Demi Gereja dan Tanah air).
Kediri, 10 Agustus 2023

