“Setiap kali memaafkan, mengasihi, dan mendoakan orang yang berbuat jahat itu, kita menerangi jiwa sendiri .” -Mas Redjo
…
Dada ini jadi longgar, plong, dan tiada beban!
Sebaliknya, ketika kita sulit untuk memaafkan, dada ini serasa sesak, terluka, dan sakit. Apa jadinya, jika sakit itu tidak segera diobati? Penyakit itu pasti beranak pinak, kronis, dan komplikasi. Kita makin tersiksa dan menderita, karena beban itu dibawa ke mana saja. Kita juga hidup dalam kegelapan, dan ngap.
Karena tidak mau menimbun beban yang makin memberati itu, saya belajar dan berjuang untuk memahami karater orang lain.
Tidak sensian, tidak mudah korslet, dan apalagi tendensian terhadap perkataan dan perilaku orang lain. Karena sikap sensi dan buruk itu yang mematik konflik, peseteruan, dan dendam.
Berbeda hasilnya, jika kita mau mendengar dan melihat dengan hati untuk mencermati perkataan, sikap, dan perilaku orang itu. Untuk melihat hal-hal yang positif dan berprasanga baik. Karena sejatinya hidup ini berhikmat dan harus makin baik.
Dasar orientasi saya untuk mudah memaafkan, mengasihi, dan mendoakan mereka yang bersalah serta jahat itu adalah kerahiman Tuhan.
Dalam Doa Bapa Kami, Tuhan Yesus mengajari kita untuk saling mengampuni agar kita murah hati (Lukas 6: 36).
Penegasan Tuhan Yesus itu makin meneguhkan iman saya, ketika di puncak salib, Tuhan mengampuni dan mendoakan mereka yang menyalibkan-Nya!
Semangat berkorban itu yang harus diteladani oleh kami semua untuk makin percaya dan mengimani-Nya.
Sumber kerahiman Tuhan adalah persatuan dengan Ekaristi Kudus yang kita terima dan hayati itu.
Kita diminta bersikap murah hati untuk mengampuni mereka yang bersalah itu seperti Tuhan mengampuni kita (Kosose 3: 13).
Dengan bersikap murah hati, kita jadi penerang bagi jiwa yang remuk rendam dan menderita!
…
Mas Redjo

