“Perubahan itu abadi. Ketika kita berani berubah untuk jadi makin baik dan rendah hati itu anugerah Tuhan.” -Mas Redjo
Seorang sahabat mengeluh pada saya. Belum lama ia membuka resto di lokasi strategis, tapi restonya sepi dan kurang laku. Padahal menunya spesial dan setiap hari ia mentraktir teman-teman ngopi di tempatnya untuk mendatangkan pembeli lain.
Saya dan beberapa teman pernah ke restonya juga. Lokasinya prestise dikelilingi banyak perumahan dan makanannya enak. Suasananya pun oke. Teman-teman memuji masakannya enak dan harganya terjangkau. Anehnya kurang laku.
Laris tidaknya usaha masakan itu dipengaruhi oleh banyak faktor. Di antaranya, karena tidak mengikuti tuntutan perubahan segmen pasar yang cepat, anjlognya daya beli masyarakat, minimnya promosi di sosmed, dan seterusnya.
Banyak orang berwirausaha, karena mempunyai uang. Sekadar dagang dan ikut-ikutan, tanpa mensurvei barang yang diminati pasar, lokasi usaha, dan banyak lagi.
Saya ingat pengalaman dari sobat AA dengan sahabat yang membuka resto itu.
Ketika hendak memulai usahanya, AA mempelajari seluk belum barang yang hendak dijualnya itu, dari A-Z. Tujuannya ingin mengembangkan usaha dari hulu ke hilir. Ketika masalah muncul ke permukaan, ia dapat segera mengantisipasinya dengan tangkas. Usaha AA makin maju dan berkembang pesat.
Pengalaman AA itu saya syeringkan kepada sahabat yang usaha resto. Jika ingin maju dan berkembang, kita dituntut berani berinovasi dan kreatif membuat varian makanan baru dan beda. Jika perlu dilabeli yang aneh agar membuat orang tertarik, penasaran, dan membeli.
“Kau harus punya menu andalan setiap bulan atau dua bulan sekali lalu gencarcdisosmedkan, ditik-tokkan … Jika kita mengekor bakal ketinggallan dan dilupakan. Kita harus berjuang jadi inovator dan pionir untuk memberi yang terbaik.”
“Jadi…?!”
“Tantangan untuk juru masakmu. Kau tidak perlu malu dan segan untuk minta tolong ke banyak temanmu yang konten kreator itu,” tandas saya meyakinkannya.
“Perlu dicoba….”
“Tidak kepalang basah lagi. Kau harus berperang dan optimis untuk jadi pemenang!” Saya menepuk-nepuk bahunya menyemangati.
Kulihat pendar semangat di matanya dan wajahnya makin sumringah.
Niat, tekad, dan semangat berjuang, Bro!
Gusti amberkahi.
Mas Redjo

