| Red-Joss.com | Jika hidup dan mati ini sebagai saudara kembar, apakah kita bisa menunda kematian itu?
Pertanyaan itu menggelitik hati saya, karena banyak orang takut menghadapi kematian. Mereka merasa tidak siap. Tapi konyolnya, mereka tidak mau berubah, perbaiki diri, dan berbuat baik.
Padahal, sesungguhnya kita dapat menunda kematian itu. Caranya tidak sulit, bahkan semua orang dapat melakukannya.
Berbuat baik itu diibaratkan kita menjamu Tuhan. Hidup yang diarahkan untuk melayani-Nya. Hidup sebagai ungkapan kasih pada sesama. Sederhana, tapi dampaknya luar biasa.
“Kita tidak bisa menolak kematian itu, cepat atau lambat pasti datang. Menunda, memperlambat kematian itu suatu keniscayaan!” sanggah teman tidak percaya. Karena hidup dan mati itu domain Allah.
Saya tersenyum, tidak membantah atau menyanggah. Saya memberi contoh tentang seorang yang telah divonis dokter. Sebut orang itu AA. Usianya menunggu hitungan hari. Karena tubuh AA digerogoti kanker ganas stadium 4.
Ketimbang memikirkan penyakit dan stres, AA melepaskan pikiran itu dengan melakukan hal baik dan positif.
Hidupnya untuk berbagi pada sesama. Ia berpikir kaya materi tidak menjamin hidup bahagia, dan tidak dibawa mati.
Dengan berbagi itu ia melihat wajah-wajah ceria orang yang ditolongnya. Ia bisa santai duduk di tanah sambil ngobrol. Ia merasa terhibur, dan hatinya damai.
Ia juga bisa pergi berwisata rohani, bahkan ia merasa dekat dengan Yang Ilahi dalam kepasrahannya. Ia juga merasa siap, jika sewaktu-waktu dipanggil-Nya. Hidup serasa tiada beban.
Ternyata hati yang riang adalah obat mujarab. Hati yang berserah ikhlas adalah anugerah. Dengan mudah bersyukur, hidup ini menjadi tanpa beban, nyaman, dan damai.
Ketika selang dua bulan AA kontrol kembali ke dokter, dan dirontgen. Dokter kaget, karena kanker di paru-parunya makin mengecil, dan kesehatannya membaik.
Ajaib! Berangsur-angsur kesehatan AA kian membaik, hingga akhirnya ia dinyatakan sembuh dari kanker!
Sesungguhnya, dengan berbuat baik ibarat kita menjamu Tuhan. Dengan mengasihi sesama, kita menghadirkan wajah kasih-Nya. Hidup untuk melayani-Nya.
Sesungguhnya, ketika orientasi hidup ini sebagai ungkapan iman, kita makin dekat dan akrab dengan Allah Sang Pencipta. Karena iman tanpa perbuatan itu mati (Yakobus 2: 17).
Dengan menjalani hidup ikhlas hati dan mudah bersyukur, niscaya kita dianugerahi usia panjang dan bahagia.
Alleluia.
…
Mas Redjo

