Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Laksana rindunya hati
para penjaga
menantikan sang fajar,
nah demikian pun
rindunya hati manusia
akan datangnya
sekeping pengharapan.”
(Didaktika Hidup Sejati)
Hanya Ada Pengharapan di Dada
Tatkala seorang korban tragedi pecahnya sebuah kapal di laut lepas, yang akhirnya dapat diselamatkan, justru hanya dengan berpegang erat pada sebatang balok kayu, juga saat ditanya, “Mengapa saudara akhirnya dapat selamat dari bahaya maut itu?”
Maka, jawaban yang spontan dilontarkannya, “Saya hanya tahu dan percaya, bahwa saya memiliki sekeping pengharapan untuk tetap bisa hidup.”
“Hal yang sungguh aneh dan hampir tidak dapat saya percayai, mengapa saya koq masih bisa hidup; padahal sudah dua hari dua malam, saya terombang-ambing dipermainkan dasyatnya gelombang,” demikian ungkapnya dengan suara berapi-api.
Apa Pandangan Anda?
Setelah mencermati kisah tragis dan kesaksian dari korban yang akhirnya selamat itu, apa pandangan dan pendapat Anda?
Apakah kesaksian dari korban tentang teguhnya hati pada sekeping pengharapan itu dapat mewakili isi hati dan keyakinan kita di saat didera derita?
Saya akhirnya berpendapat, bahwa apa dan bagaimana pun pandangan serta pendapat personal Anda, namun ada satu hal penting yang harus ada di dalam sanubari Anda, ialah adanya ‘sikap berpengharapan’ yang bercokol di dalam dada Anda.
Sang bijaksanawan mengajarkan kita, meskipun selama sehari Anda tidak makan dan minum, Anda masih bisa hidup. Namun, jika sesaat saja Anda kehilangan pengharapan, maka Anda sudah tidak berdaya.
Tengoklah sekali lagi pada kedahsyatan pengalaman dan kesaksian korban tragedi kapal pecah itu.
Bukankah isi hatinya telah bersaksi, bahwa kekuatannya yang masih tersisa, justru hanyalah sekeping pengharapan?
…
Kediri, 7 Maret 2025

