“Hidup dalam pernikahan itu agar kita mempunyai keturunan. Tapi jadi mempelai Tuhan agar kita hidup kudus.” -Mas Redjo
…
Ketika saya hendak meneruskan ke Seminari, Ibu melarang. Alasannya, saya anak tunggal, dan dianggap tidak berbakti, jika tak meneruskan garis keturunan. Ibu keukeh dan tidak mau menerima penjelasan saya. Meski kecewa, saya berdoa agar jiwa panggilan hidup membiara itu makin kuat, dan kelak Ibu merestuinya.
Keinginan untuk hidup membiara itu bermula sejak saya jadi Putera Altar yang bertugas melayani Romo saat Ekaristi Kudus. Hati saya merasa tenang, damai, dan bahagia. Kelak saya ingin melakukan, merasakan, dan menikmati peristiwa yang indah itu.
Ternyata obesesi dan cita-cita saya untuk mengucapkan tiga janji suci (kaul): kemiskinan, ketaatan, dan kemurnian itu tidak kesampaian, ketika saya aktif dalam organisasi sosial. Hati ini sedih perih melihat keadaan orang-orang yang kurang beruntung, dan saya ingin berbagi dari yang dimiliki.
Dalam permenungan dan olah batin itu hati saya dibukakan Tuhan, bahwa untuk melayani-Nya, kita mempunyai banyak jalan. Misalnya lewat hidup membiara, kerja sosial, orang awan yang hidup selibat, dan sebagainya. Yang penting kita setia pada panggilan jiwa untuk menghadirkan kasih-Nya dan rela berkorban bagi sesama.
Meski tidak mengucapkan kaul tiga janji suci biarawan (consilia evangelica). Tapi saya menghidupi lewat perilaku hidup keseharian, yakni memiskinkan diri di hadirat Tuhan dengan hidup bersahaja dan taat pada kehendak-Nya. Melalui kaul kemurnian, saya menerapkan visi dan misi aktif dalam organisasi sosial yang tidak mencari keuntungan pribadi, tapi saya memfokuskan hati untuk melayani-Nya.
Dengan menghidupi ketiga kaul itu, saya memperkokoh jiwa pelayanan dalam meneladani Yesus Kristus untuk menghadirkan Kerajaan-Nya.
Semoga jiwa pelayanan dan rela berkorban ikhlas hati pada sesama itu membawa kita menuju hidup kekudusan.
Tuhan memberkati.
…
Mas Redjo

