Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Red-Joss.com | “Silo, membangun tembok di dalam pikiran orang dan menciptakan penghalang di dalam hati organisasi.”
Pearl Zhu
Tulisan ini, diturunkan karena sang penulis terinspirasi oleh sebuah tulisan di dalam kolom “karier,” koran Kompas, Sabtu, (18/3/2023), berjudul “Mentalitas Silo.”
Kata “silo,” secara harafiah adalah “cerobong asap.” Mendeskripsikan, bahwa, bila kita berada di dalam sebuah “cerobong asap,” pandangan kita pun terhalang, sehingga kita tidak bisa melihat seluruh area secara menyeluruh.
Dalam konteks ini, “silo”: sebuah sistem yang “memisahkan jenis karyawan yang berbeda,” biasanya berdasarkan departemen/divisi/seksi/bagian.
Penulis berpendapat, alangkah pentingnya tulisan ini diturunkan, agar kita dapat belajar “mengenal, mengetahui, serta sadar,” bahwa fenomena “silo” ini, ternyata, nyata dan riil, dan bahkan sangat garang berkecamuk di dalam zona pelayanan kita.
Di mana tempat kita melayani? Kita dapat melayani di mana saja, tentu sesuai panggilan kita untuk mengabdi. Di dalam institusi dinas pemerintah, swasta, atau pun keagamaan, edukasi, kesehatan, organisasi, dan bahkan di dalam pelayanan persekutuan keagamaan yang dipandang spesial dan bahkan sakral.
Saudaraku, tak pelak, fenomena “mentalitas silo” ini sungguh ada, dan memang terjadi, serta gema dasyatnya terbaca, terasa, dan dialami di dalam lembaga-lembaga kita.
Kita perlu bersikap jujur serta transparan untuk berkata, ya atas dampak buruk atau bau busuk dari fenomena silo ini. Bayangkan, andaikan fenomena ini terjadi di dalam sebuah lembaga edukasi.
Maka, relasi dingin kaku serta adem ayem, saling menuding, serta saling mempersalahkan akan terjadi.
Betapa menyakitkan hati antar person bahkan mungkin antar bagian pun mulai saling diam alias “sakit gigi” darurat serta mendadak.
Di manakah si sang pemimpin, di manakah si sang wakil pemimpin, di manakah para kepala bidang? Ternyata, biasanya mereka pun akan saling menuduh dan menuding. Saling menepis, bagian ini, bukan tanggungan kami, kami hanya mengurus bidang ini.
Kebusukan ini pun akan segera menyeruak serta kian menyengat, dan bahkan dapat saja mendegradasi pamor lembaga edukasi itu.
Jika ternyata para pelanggan setia kita serta pengguna jasa kita mulai mencium aroma busuk ini, maka hancurlah lembaga kita.
Para pelanggan sering kali merasa, bahwa mereka dipingpongkan oleh lembaga edukasi kita. Semisal, saat orangtua murid mengambil rapor anaknya. Sang wali kelas akan menjawab ketus, maaf Pak, ini urusan Wakil Kepala sekolah bidang kurikulum. Ketika sang waka kurikulum didatangi oleh orangtua murid, beliau pun ketus menjawab, maaf Pak, silakan menghadap kepala sekolah dulu, ya. Ekor yang sungguh ekstrem dari suasana ini adalah akan “merugikan” lembaga itu sendiri.
Saudaraku, apa yang meledak di sini? Inilah hadiah berupa buah mangga ranum dari fenomena sang silo ini.
Maka, akan tampak sebuah lembaga edukasi yang bermuram durja. Terciptalah sebuah suasana sunyi semu, dan tampak wajah-wajah seram serta aksi sikut-menyikut antar anggota. Kondisi genting serta tumpang tindih ini, oleh para edukator disebut, fenomena “us versus them mentality.”
Untuk mencegah terulangnya fenomena busuk mencekam ini, maka lembaga edukasi kita perlu membentuk dan membangun jaringan “tim lintas kolaborasi.” Tim ini, perlu bergerak ekstra cepat serta cerdas demi menumbuhkan sikap kreatif serta inovasi bersama antar bagian.
Saudaraku, “peliharalah dulu airnya, baru memelihara ikannya!”
…
Kediri, 20 Maret 2023

