“Perubahan hidup itu harus dimulai dari pola pikir sendiri, jika kita ingin jadi pejuang yang tangguh dan pemenang kehidupan.” -Mas Redjo
Fakta itu yang saya maknai pada hari Buruh. Ketimbang jadi buruh Tuan, lebih bijak saya jadi Bos diri sendiri.
Sadar diri itu yang membuat saya batal untuk mudik ke kampung. Ketimbang saya menikmati pensiun tanpa memaknainya, lebih bijak saya kembali berwirausaha untuk mendukung anak muda yang profesinya tukang parkir itu, tapi piawai masak agar ia mandiri.
1 Mei itu juga berketepatan dengan Bulan Maria. Kita berdoa rosario untuk berdevosi pada Maria yang dikenal sebagai Bunda Kerahiman Ilahi.
Saya ingat benar dengan renungan Romo dalam suatu pertemuan Kuria Legio Maria:
“Mencari tahu lebih banyak, pahami dengan cinta, dan akrabi Ibu Maria sebagai Bunda Kerahiman Ilahi agar kita diberkati Tuhan untuk jadi pemenang kehidupan.”
Kata-kata Romo itu tidak sebatas memotivasi, tapi juga menginspirasi saya untuk mengenali lebih dekat mitra kerja dan mendukungnya agar ia semangat dalam berjuang dan jadi tangguh.
Saya sadar tidak mempunyai modal besar. Modal itu saya peroleh dari sewa ruko yang dikontrak. Karena saya batal mudik untuk menikmati pensiun. Hati saya tergerak untuk membiayai anak muda yang tukang parkir itu, tapi piawai memasak, bahkan pernah juara masak tingkat kelurahan.
Uang sewa ruko itu saya gunakan untuk kontrak ‘food court’ di pintu masuk komplek perumahan. Sisanya untuk membeli peralatan dan modal bahan.
Pesan saya pada anak muda itu, “Jangan menunggu, karena yang mampu mengubah nasib ini adalah diri sendiri, asal kita ‘teken, tekun, dan tekan’ ke tujuan.”
Tugas saya, selain pemodal dan memanejeri, juga membantu di bidang pemasaran dengan sedikit keahlian di bidang IT, dan relasi pertemanan yang luas. Saya melakukan semua itu dengan semangat optimis penuh harapan.
Niat ingsun, semoga Tuhan memberkati.
Mas Redjo

