Fakta yang tidak bisa dipungkiri, dan nyata. Dunia tengah dilanda krisis energi, pangan, ekonomi, dan sekarang krisis pembeli!
Ekonomi makin sulit itu benar. Tapi tidak berarti akhir segalanya.
Langkah bijak adalah kita mawas diri. Melihat realita usaha sendiri, masalah yang dihadapi. Bisa jadi jualan kita mahal, kualitas barang rendah, pelayanan jelek, pengiriman barang tidak tepat waktu, dan seterusnya. Dengan mawas diri, kita benahi semua lini untuk menemukan solusi.
Bisa juga, kita mengumpulkan karyawan untuk diajak bicara, tanpa harus menakut-nakuti mereka tentang situasi sulit perusahaan. Kita mengajak mereka menggali ide kreatif yang mungkin terlewati. Untuk mengantisipasi ekonomi sulit dengan semangat optimistis dan lebih percaya diri.
Variabel Kemungkinan
Pemimpin yang bijak itu menolak untuk menyerah. Apa pun tantangan masa depan itu harus dijawab.
Seberat dan sesulit apa pun perekonomian dunia, hal itu tidak harus ditakuti, tapi diantisipasi.
Kita hendaknya sadar diri dan ingat, mempailitkan usaha itu mudah. Tapi, bagaimana dengan nasib karyawan dan keluarganya? Kita mempunyai aset, tapi mereka?
Ketika perekonomian makin sulit, kita tidak harus mengorbankan karyawan, tapi melindungi dan mempertahankannya. Karena mereka adalah aset perusahaan.
Dengan mendulukan kepentingan karyawan, kita makin ditantang dan dipacu untuk mencari solusi. Kita harus mampu merubah tantangan itu jadi peluang usaha.
Caranya, kita harus berani berubah untuk mengikuti perkembangan zaman. Dari bisnis konvensional, industrialisasi, hingga ke digitalasasi.
Variabel peluang usaha yang membuat kita makin optimistis untuk menyongsong masa depan yang gilang gemilang.
Seberat dan sesulit apa pun perekonomian ini, ketika kita fokus untuk berbuat baik dan mohon belas kasih Allah, maka pintu rezeki akan dibuka-Nya.
…
Mas Redjo

