Red-Joss.com – Jujur, saya prihatin dan malu, ketika melihat video itu. Prihatin, karena video itu memotret suasana pabrik yang tidak ada kegiatan. Semua mesinnya mati dan tidak ada seorang karyawan pun yang bekerja!
Saya malu, karena dalam narasinya itu si empunya pabrik minta tolong, bahkan mengemis pekerjaan. Kesannya putus asa, menyerah, dan kalah. Dengan memperoleh order pekerjaan diharapkan mesin-mesinnya itu dinyalakan dan para karyawan bekerja kembali.
Ironis? Sangat ironis, karena itulah potret yang sebenarnya di sekitar kita. Mengapa takut menghadapi kenyataan? Mengapa kita ngeri membayangkan masa depan?
Sesungguhnya, ketakutan itu milik orang yang tidak percaya diri dan bermental lembek.
Sesungguhnya, kengerian itu milik orang yang lemah iman dan tidak mempercayakan hidup ini kepada kehendak Allah.
Coba ditelusuri sebab ketakutan itu. Usaha makin lesu, tidak ada order, pabrik bakal tutup, usaha bangkrut, dan kita ngeri menghadapi masa depan yang kelam.
Sebagai pimpinan, direktur, bahkan pemilik usaha, tidak seharusnya (maaf) kita teramat lebay. Sehingga rendahkan diri serendah-rendahnya mengemis pekerjaan. Hal itu tidak pantas, mempermalukan diri sendiri, menakut-nakuti karyawan, kita juga menebar aura negatif, dan meneror siapa pun yang melihat video itu.
Alangkah bijak, jika kita sebagai pimpinan, pejabat publik, atau orangtua tidak mengekspresikan sikap ketakutan yang berlebihan itu di depan karyawan, anak, dan disebar di medsos. Di hadapan mereka, kita harus menjaga wibawa, martabat, tegar, dan percaya diri.
Mencari Solusi
Apa pun bentuk ketakutan itu kudu dihadapi, dikelola, dan dicari jalan ke luarnya. Kita harus menentukan sikap: menolak untuk menyerah!

