Luk 4: 24-30
“Bila kekeliruan dan kesalahan sudah lama kita peluk erat (menghidupinya atau menjadikan ajaran, pedoman, dan kebiasaan), maka sangat sulit bagi kita untuk menerima koreksi, saran, atau kritik. Apalagi tawaran kebenaran yang bertentangan dengannya. Konsekuensinya ada penolakan, bahkan tindakan jahat yang kita lakukan demi mempertahankan sesuatu yang salah, tapi dianggap benar.”
Sikap penolakan seperti di atas juga dilakukan oleh orang-orang sezaman Yesus: ”Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat. Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu” (ayat 28-29).
Pelajaran penting bagi kita adalah:
1) Bukalah mata dan hatimu terhadap kebenaran yang ditawarkan oleh pihak lain;
2) Perlu kerendahan hati untuk mengakui kekeliruan dan bahkan kesalahan yang sudah dianggap benar dalam rentang waktu yang lama;
3) Mendengarkan dan mempertimbangkan usulan, saran, dan kritikan orang dengan kepala dingin alias tanpa tindakan anarkis dan kekerasan.
Akhirnya lebih baik memiliki hati yang terluka, karena kebenaran daripada jiwa bersuka ria, karena memeluk erat kebiasaan yang keliru, bahkan salah.
Monsignor RD Inno Ngutra

