“Tidak ada usaha yang dicapai secara instan. Kecuali, ketika Tuhan berkehendak, maka semua itu bakal terjadi dan nyata.” – Mas Redjo
…
Karena sadar diri, untuk mencapai sukses itu ibarat mendaki bukit nan terjal berbatu dan curam. Kita harus menapaki jalan itu ekstra hati-hati dan fokus agar tidak tergelincir celaka.
Ide itu muncul tiba-tiba. Ketika saya membeli obat di toko kelontong langganan. Pakdhe dibantu anak buahnya sedang memberesi kardus untuk dijual ke pengepul.
Dari Pakdhe, saya tahu harga jual kardus itu ke pengepul. Berbeda harganya, jika konsumen membeli langsung kardus itu untuk ‘pecking’ barang.
Mengapa peluang usaha ini tidak saya manfaatkan?
Terbetik niat itu untuk buka usaha jual beli kardus. Saya harus berani melakukan hal-hal baru, bahkan memulai pekerjaan itu dari nol. Jika tidak, uang pesangon dari kantor itu bakal habis. Menganggur lama itu tidak enak, dan kebutuhan keluarga juga makin banyak.
Teringat nasihat dan rahasia sukses teman yang mempunyai beberapa perusahaan, ketika aktif di OMK dulu, Masro.
“Kenali, akrabi, dan pahami bidang pekerjaan atau profesi yang ditekuni itu sepenuh hati, dijamin hasilnya tidak mengecewakan.”
Prinsip dasar sukses usaha Masro sederhana: jangan menunggu, tapi kita harus aktif menjemput rezeki, karena semua orang ingin dilayani. Hal senada mengingatkan saya dengan kedatangan Tuhan Yesus, yakni tidak untuk dilayani, tapi melayani!
Ketika ide itu saya sampaikan ke istri, ia ragu, karena pekerjaan itu berat. Saya harus berkeliling ke luar masuk: dari toko kelontong yang satu ke toko lain untuk mencari dan membeli kardus.
Saya meyakinkannya, bahwa saya mampu. Pekerjaan yang dijalani dan dinikmati dengan senang itu tidak bakal melelahkan. Selain itu, tanpa kerja keras untuk menjemput rezeki, sukses itu tidak bakal mendatangi.
Orang yang membuka usaha toko, jika pasif dan sekadar menunggui pelanggan yang datang itu membosankan. Orang belanja itu ibarat rezeki yang nyasar. Apalagi di era digitalisasi ini, kita dituntut aktif menjemput rezeki mempromosikan (mengiklankan) diri agar usaha kita dikenali banyak orang, maju, dan berkembang.
Saya berdoa mohon penyertaan, bimbingan, dan berkat Tuhan agar saya makin mantap melangkah untuk memulai pekerjaan baru.
Nasihat Masro makin meneguhkan hati saya:
“Kita hidup prihatin dan kendalikan pikiran agar tidak dikalahkan oleh keinginan untuk muasin nafsu sendiri. Jangan biarkan besar pasar daripada tiang, sehingga usaha itu roboh!”
Niat ingsun!
…
Mas Redjo

