“Musuh terbesar untuk bertumbuh adalah diri sendiri.” – Rio, Scj.
…
| Red-Joss.com | Berapa pun usia, hebatnya kita, dan apa pun pencapaian kita, bahkan tidak peduli apa status sosial kita. Ada saat di mana kita akan merasa rapuh. Kadang kita merasa mampu, tapi ada saatnya kita merasa ragu. Kadang kita merasa orang di sekeliling kita mendukung dan mencintai kita, tapi ada saatnya, mereka memanfaatkan dan menghujat di belakang kita.
Kadang kita merasa semua terkendalikan dengan baik, tapi ada saatnya kita merasa dunia seperti jungkir balik. Bahkan ada kalanya kita merasa bisa, tapi ada saatnya kita merasa seperti orang gagal sedunia.
Rasa seperti itu wajar dan selalu terjadi. Hidup itu selalu memberikan kejutan, perasaan yang berbeda dan warna. Kita semua pernah mengalaminya. Ada saatnya kita ragu, terutama saat kita sedang melangkah maju dan bertumbuh. Ada saatnya kita rapuh, terutama saat kita sedang belajar dan melakukan hal-hal baru, baik itu tantangan, kehidupan, lingkungan, pekerjaan, kondisi, dan tanggung jawab baru. Ada saatnya kita merasa sepertinya cukup sampai di situ.
Tahukah kita, bahwa ada musuh terbesar yang akan menghancurkan kita. Musuh itu adalah diri kita sendiri. Jika musuh itu dapat dikalahkan, maka kita akan menjadi versi terbaik diri kita. “Be best yourself.”
Ada tiga hal yang harus kita lakukan untuk menjadi versi terbaik diri kita.
Pertama: lawan dengan penerimaan. Menerima dan mencintai diri ini, baik kelemahan dan kelebihan adalah langkah awal untuk menjadi diri sendiri. Itulah ‘low acceptance’. Terimalah, cintailah diri kita secara tulus dan jujur. Bila ini bisa kita lakukan, maka keraguan, rendah diri, dan tak percaya diri itu mampu kita lawan dan kalahkan.
Kedua: berdamai dengan adaptasi. Itulah ‘low adaptance’. Ingat teori Darwin “Bukan mereka yang kuat, bukan pula yang pintar yang survive, tapi mereka yang bisa beradaptasilah yang selamat.” Beradaptasi adalah senjata ampuh untuk menjadi versi terbaik diri kita. Adaptasi bukan sebuah kompromi, tapi sebuah proses bertumbuh dan menjadi diri sendiri. Berdamai dengan kekurangan, kelebihan, hal positif dan negatif diri kita. Yang kurang, lemah dan negatif perbaikilah agar tak membinasakan kita. Larut dalam kelemahan dan kekurangan akan membawa kita pada kehancuran. Tapi mencari peluang untuk memperbaiki kekurangan adalag proses adaptasi yang membawa kesuksesan.
Ketiga: kalahkan dengan iman. Sadari, bahwa kita ini istimewa dan berharga. Harga kita tak ditentukan oleh deposito, kekayaan, jabatan, banyaknya uang, dan ‘follower’. Melainkan, nilai diri kita ditentukan oleh Tuhan. Teguh dalam iman akan Tuhan. Niscaya kegagalan itu jadi pembelajaran, kesulitan itu akan teratasi, dan mujizat-Nya menjadi nyata.
Ingat bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Percaya dan imani agar kita dilimpahi sukses dan bahagia.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

