Generasi 4.0 sekarang selalu tampil maksimal saat di media sosial. Bahkan cenderung berlebihan. Amat jarang yang tampil dalam kesederhanaan. Tidak salah, dan itu boleh saja. Upload foto, video, tiktok, dan lain-lain dengan maksimal. Namun hidup bukan hanya terkenal dan dipuji di media sosial. Hidup itu bukan karbitan, melainkan perjalanan. Bukan pula kepalsuan, melainkan kenyataan.
Jadilah versi terbaik diri kita. Versi yang bukan editan atau bohongan, tapi versi original. Versi yang tidak hanya viral, tapi memberi inspirasi bagi banyak orang.
Cintailah diri ini dalam ketulusan dan penerimaan. Mencintai diri itu bukan karena kita sempurna, tapi karena diri kita layak untuk mendapatkannya. Mencintai diri bisa dilihat dari penerimaan diri. Tidak ada salahnya menjadi pribadi yang unik, meski banyak komentar yang berisik.
Meski begitu, tetap tunjukan, bahwa kita sungguh orang baik. Jalan hidup manusia itu selalu berbeda. Ada yang dari keluarga berada, ada juga yang sederhana. Meski sesulit apa pun hidup ini, dan sebesar apa pun masalah kita, ingatlah untuk selalu mengubah keadaan agar hidup makin lebih baik.
Karena mencintai diri dengan benar, akan membuka cinta pada Sang Pencipta, sesama dan ciptaan lainnya.
Selalu terbuka kesempatan untuk berkarya dan menjadi bahagia. Hidup itu bukan untuk mencari sensasi dan citra diri, tapi untuk mengukir prestasi dan menjadi inspirasi.
Tuhan merancang setiap orang dengan talenta. Karena itu kelola dengan bijak, dan teruslah menanjak menuju puncak dan tinggalkan jejak. Maksimalkan hidup yang Tuhan berikan, dan jadilah versi terbaik dari diri kita.
Sesungguhnya kebahagiaan dalam hidup adalah, ketika kita bisa berbagi cinta pada sesama, mencintai diri kita seutuhnya, dan mencintai Tuhan seumur hidup kita.
Deo gratias.
Edo/Rio, Scj

