Sekitar jam 13.30 siang tadi, sesaat saya membuka gerbang, ada seorang anak muda yang sedang mengamen tepat di sebelah rumah.
Saya tidak cepat-cepat menutup gerbang, khawatir mengganggu dia bernyanyi dan…. menunggu, kalau dia mampir dan bernyanyi. Ternyata tidak. Dia terus berlalu sambil menunduk kepala dan senyum.
“Ah, pengamen yang empatik,” gumamku dalam hati. Dia mampu membaca situasi dan tidak memaksakan kehendak. Padahal ada kesempatan.
Empati berasal dari kata empatheia yang memiliki arti ‘ikut merasakan’. Sangat dibutuhkan untuk mencipta relasi yang harmonis, di manapun.
Untuk meningkatkan daya empati dalam diri kita, Santo Yakobus memberi tips:
“Jadilah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berbicara dan lambat untuk marah” (Yak 1: 19).
Semoga senja Anda menjadi senja yang empatik untuk seisi keluarga.
Selalu sehat dan berbagi terang senantiasa.
Jlitheng

