Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kita semua adalah panutan bagi seseorang di dunia ini dan kita semua dapat memberikan dampak untuk kebaikan.”
(Tony Dungy)
…
| Red-Joss.com | Tulisan ini diinspirasi oleh spirit dari sebuah tulisan dalam harian Kompas, Sabtu, (22/6/2024), kolom Karier, berjudul Menjadi Panutan oleh Eileen Rachman dan Emilia Jakob (Tim Ahli Konsultan SDM).
Pentingnya Modelling
โModellingโ merupakan proses yang paling sederhana dan alamiah dilakukan oleh manusia, sampai hewan sekalipun. Anak kecil mulai belajar meniru tingkah laku dan perkataan orang-orang dewasa di sekelilingnya, bahkan sebelum mereka memahami artinya, demikian isi paragraf pertama tulisan ini.
Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan suatu proses, bagaimana manusia belajar tentang sesuatu lewat pengamatannya, dan hasil pengamatan itu akan tersimpan di dalam ingatannya. Dari hasil ingatannya itu, maka manusia mau menjadikannya sebagai sebentuk model yang akan ditirunya kelak.
Sesungguhnya “Menjadi Pemimpin Panutan” itu berarti seluruh gerak gerik dan tata cara pemimpin itu beraksi dalam menjalankan tugas kepemimpinan akan dijadikan sebagai model panutan bagi para pengikutnya.
Tiga Model Teori Belajar Sosial Albert Bandura
Menurut Albert Bandura, bahwa suatu proses belajar akan terjadi saat manusia itu mengamati perilaku sosial orang lain.
Bayangkan, jika perilaku yang diamati itu, justru perilaku pemimpin yang inkonsisten dan tidak berintegritasโฆ
Tiga (3) hal yang berdampak, bahwa suatu proses peniruan itu dapat berlangsung dengan baik.
(1) Atensi (pengamatan): para pengikut dengan cermat mengamati perilaku sang pemimpin yang menarik, populer, kompetan, dan dikaguminya.
(2) Retensi (mengingat): para pengikut seolah tersengat hatinya untuk menyimpan kesannya itu sebagai sebuah ingatan yang kuat.
Maka, lambat laun ingatan itu pun menjadi milik yang menjadikan mereka untuk kian fanatik dalam mengagumi pemimpin itu.
(3) Reproduksi (peniruan): para pengikut setia itu pun membuat latihan-latihan spontan sebagai umpan balik untuk menirunya.
Dalam konteks ini, pemimpin hebat itu dapat menjadi โrole modelโ yang mampu menghipnotis dan menginspirasi para pengikutnya. Tentu pemimpin itu perlu bersikap konsisten dan berintegritas.
Dapat dibayangkan, bagaimana kecewanya para pengikut itu seandainya pemimpin pujaan yang jadi panutan itu, akhirnya berubah sikap dan perilakunya jadi sosok pribadi yang gila hormat, misalnya.
Sungguh, betapa penting dan mendasarnya sikap konsistensi serta berintegritas dari pemimpin panutan itu.
Pemimpin panutan itu akan menebarkan pesona tulusnya lewat pengaruh besarnya.
“Aku datang untuk melayani dan bukan untuk dilayani!
…
Kediri,ย 25ย Juniย 2024

