Untuk mencapai dan mewujudkan yang ‘real’ (nyata) itu tidak mudah, apalagi untuk mencapai yang ‘ideal’. Tapi yang menarik, kadang kita tergoda untuk jadi pribadi yang begitu ‘idealistik’, hanya saja yang terjadi, dalam kehidupan yang ‘real’ itu gagal. Kita lupa, bahwa hidup dengan orang lain itu dinamis.
Jika orang yang idialis itu ketemu dengan orang sama, pasti menarik, karena keduanya akan berdiskusi atau bertukar pikiran. Tapi jika yang idialis berjumpa dengan realistis, tentu akan ada ketegangan. Bagaimana, jika yang realistis berjumpa dengan yang realistis? Mungkin, akan bisa saling belajar. Sebab, hal-hal yang nyata itu telah dialami dan jadi pelajaran hidup yang berharga.
Itulah sebabnya, di hadapan Tuhan dan sesama, didiklah diri ini untuk jadi pribadi yang makin ‘real’. Asli. Sebab, dari titik inilah kita akan mulai merasakan yang dinamakan dengan ketenangan, damai, harmoni, dan kesadaran diri. Karena hidup itu nyata, bukan imajinasi. Hidup ini tidak asal-asalan, tapi harus mempunyai tujuan yang jelas.
Rm. Petrus Santoso SCJ

