Sekolah favorit itu biasanya menetapkan syarat bagi calon murid untuk dapat mendaftarkan diri. Dengan mempunyai murid yang pintar dan cerdas, para guru tidak akan kesulitan untuk mengajar mereka. Sekolah juga akan mendapatkan prestasi dan akreditasi yang baik. Sebaliknya, jika sekolah mendapatkan murid yang rendah dalam kepintaran dan kecerdasannya, maka para guru itu akan kesulitan untuk mengajar mereka, dan sekolah berjuang sekuat tenaga untuk meningkatkan mutu pendidikannya.
Dalam tradisi Yahudi, murid itu yang biasanya mencari Guru. Makin pintar murid, ia akan mencari seorang guru yang bagus dan terkenal. Seleksi untuk jadi murid itu ketat dan berat, karena jadi murid berarti tinggal bersama dengan Gurunya, hidup seperti Gurunya, dan belajar dari Gurunya. Dengan cara demikian, para murid akan semakin mengenal dan meneladan, bagaimana Guru itu mempraktikkan yang diajarkannya.
Demikian juga halnya jadi murid Yesus. Tidak cukup hanya “mendengarkan dan melihat Yesus” dan setelah itu pulang. Karena harus tinggal bersama Yesus. Bukan hanya untuk menikmati dan mendompleng ketenaran Sang Guru. Yesus mengajukan tuntutan kepada mereka, “Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”
Tuntutan ini tidaklah mudah, tapi penting bagi pertumbuhan hidup para murid. Tuhan meminta mereka untuk mengukur kesungguhan diri. Melalui dua perumpamaan tentang orang yang mendirikan menara dan seorang Raja yang hendak berperang, Yesus mengingatkan kepada orang yang mengikuti-Nya untuk menimbang kesungguhan dan kemampuan mereka.
Sebagai orang Kristen, kita dipanggil bukan hanya untuk “mendengarkan dan melihat Tuhan”, melainkan untuk jadi murid-Nya. Tuntutan yang sama juga diberikan kepada kita. Tuhan membutuhkan totalitas dan kesungguhan kita untuk jadi murid sejak awal, bukan di pertengahan atau bahkan akhir. Semua itu bukan demi Tuhan Yesus, melainkan demi kebaikan dalam mengambil bagian dalam karya penyelamatan Allah.
Ziarah Batin

