| Red-Joss.com | Seekor elang muda sukses menyabet ayam dari tengah kerumunannya. Ia kembali terbang ke ketinggian, disoraki kumpulan ayam, bebek, kambing, dan kelinci nun jauh di bawah sana.
Sorakan itu bukan pujian, karena kepiawaiannya menukik dan menyambar mangsa. Tapi wujud solidaritas melawan kesewenangan elang yang merenggut kehidupan. Tidak ketinggalan sejoli merpati yang tengah berciuman di pucuk cemara turut protes keangkuhan elang.
Tidak terima diumpat, sang raja angkasa itupun tergoda untuk membuka suara menanggapi. Kehebohan di bawah sana menjadi pintu kebodohan baginya. “Hati-hati!”
Protes keras dari bawah menjadi proses jelas baginya. Paruh membuka untuk membalas berarti jatuhnya ayam tangkapan kembali ke bumi.
Ketenangan atau tepatnya kediaman diri untuk tidak bereaksi terhadap situasi dan keriuhan di kelilingan hidup adalah sikap yang diperlukan agar potensi menyuburkan hidup melalui potensi diri dapat tercapai.
Kelemahan manusiawi kita adalah latah bereaksi, ringan mulut menanggapi, ikut arus dalam riak keramaian.
Seirama dengan ajakan Paulus kepada umat Korintus, kita hadir di kedalaman hening batin. “Tuhan ada di sini, di dalam jiwa ini… berusahalah agar Dia tersenyum”… membiarkan diri selama puasa, Allah memakai kita menjadi aliran rahmat bagi sekitar kita.
Damai indonesiaku, makmur negeriku, kokoh kesatuan bangsaku.
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

