Di dalam semua aspek kehidupan kita, ujian itu terjadi dalam suatu proses untuk membuktikan sesuatu hasil baik untuk jumlah maupun kualitas. Apa pun bentuk dan karakternya ujian itu, aspek dasarnya ialah orang yang mengalaminya berada di dalam situasi dicoba atau diuji kemampuannya.
Sikap yang umum ialah keadaan jiwa dan raga orang yang menghadapi ujian berada dalam suatu keadaan negatif atau positif. Orang bisa gugup, berdebar, takut, kurang yakin, dan mengeluh. Orang bisa juga berani, konsentrasi, fokus, percaya diri, dan yakin untuk menghadapi lalu akhirnya melewati ujian itu. Situasi bisa terlihat di wajah mereka, namun justru lebih seru ialah di dalam jiwanya. Kedua situasi ini menggambarkan, bagaimana seseorang menikmati ujian itu.
Orang bersikap negatif, ketika menghadapi ujian disebabkan oleh aneka alasan. Yang paling umum ialah karena yang bersangkutan kurang atau tidak siap. Ketidaksiapan mental dan semangat biasanya langsung membuat tubuh jadi gugup, gemetar, keringatan, dan lemah. Dalam keadaan seperti ini, sikap menyerah bukan mustahil di mana yang bersangkutan bisa menolak untuk menghadapi atau menghadapi saja, tetapi dengan risiko pada hasil di bawah harapan.
Ini berbanding terbalik dengan sikap positif dan optimis dalam menghadapi ujian, yaitu orang yang siap jiwa dan raga. Bahkan kesiapan ini diungkapkan dengan suatu kegirangan dan kerinduan untuk mengantisipasi ujian. Sikap seperti ini membuktikan, bahwa yang bersangkutan yakin akan hasil yang bakal dicapai memuaskan dan memenuhi harapan. Atau sikap ini juga merepresentasi sebuah sikap mental pada orang yang percaya, bahwa hasil baik atau buruk bukanlah hal yang prioritas, tapi ini jadi kesempatan untuk menempa dan melatih diri.
Santo Yakobus memberikan nasihat, bahwa ujian dalam hidup memang mesti dilalui, karena hasilnya adalah sebuah ketekunan yang merupakan jalan menuju kesempurnaan. Yesus diuji terus menerus oleh kaum Farisi dan para cendekia ahli Taurat. Tapi biasanya Yesus membungkam mereka. Dia adalah Tuhan, maka tak perlu ujian. Tapi yang Ia anggap sebagai kemunduran ialah mereka yang mengujinya tidak mendapatkan keuntungan apa-apa. Hal itu berarti, bahwa Yesus yang siap, sedangkan mereka tidak siap dalam medan ujian. Jadi hukumnya pasti: sebelum ujian utama, harus awali dulu dengan banyak ujian pemanasan alias persiapan-persiapan dan antisipasi dalam segala bentuknya.
“Ya, Tuhan Yesus Kristus, ajarilah kami selalu dengan meletakkan kata-kata dan tindakan yang benar dan tepat dalam setiap kesempatan kami menghadapi ujian hidup ini. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

