Seorang Guru Bijak mengamati muridnya yang meminta pencerahan soal rasa. Rasa dalam secangkir kopi pahit yang disajikan di kaki lima dan di resto.
“Menurutmu?!” Guru Bijak itu balik bertanya.
Murid itu terdiam. Ia mencoba mencerna makna ‘rasa’. Sejatinya hakikat rasa kopi itu sama. Tapi yang membedakan adalah racikan, aroma, dan suasana hati. Tidak didasari oleh harga murah atau mahalnya. Lalu?
“Untuk kopi yang sama itu tidak ada bedanya, Guru. Tapi yang membedakan rasa adalah ungkapan syukur atas nikmat itu sendiri, yang mana tiap orang itu tidak sama.”
Guru Bijak tersenyum arif, tidak menanggapi. Murid itu tampak sumringah. Guru Bijak tidak menyanggah atau membenarkan.
“Bersyukur itu tidak mengenal orang kaya atau miskin, senang atau susah, suasana tempat … Melainkan, karena sikap hati yang mampu menempatkan diri untuk menerima dan menikmati. Rasa syukur itu muncul, karena anugerah Tuhan. Suatu pencerahan itu yang harus diasah supaya kita peka pada sesama untuk berempati, peduli, berbela rasa, dan berbagi.”
“Orang kaya itu belum tentu mampu menemukan rasa nikmat secangkir kopi di warung kaki lima yang kotor dan jorok. Ketika hati dan pikirannya tidak bisa menyatu dengan keadaan warung itu. Mungkin, ia minum, karena terpaksa. Tidak enak hati dengan orang yang mengajak, misalnya.”
“Begitu juga sebaliknya kita yang tidak berduit, ngopi di resto demi gengsi ben-diarani. Rasa itu muncul, karena disyukuri supaya nikmat. Sedang rasa itu hanya sampai ujung kerongkongan…”
Guru Bijak manggut dan tersenyum.
“Ya, hakikat kehidupan ini sejatinya tentang rasa. Dari rasa ke rasa. Kita mengolah rasa di dalam rasa untuk disyukuri dan dinikmati. Bagaimana kita mampu jadi penikmat, jika kita tidak mengecapnya dengan hati. Atau kita tidak menyajikan dalam hidup keseharian sebagai ungkapan pujian dan syukur kita atas segala anugerah Tuhan. Mudah bersyukur itu membuat hati ini jadi tenang, tentram, dan damai.”
Murid itu menekur untuk mencerna dan memahami uraian Guru Bijak. Sejatinya, dalam sikon apa pun, jika hidup ini senantiasa disyukuri itu berasa nikmat. Hidup ikhlas itu berhikmat!
Mas Redjo

