“Mengingatkan itu tidak harus menakuti, apalagi mengancam. Tapi menumbuhkan kesadaran untuk berpikir dengan baik dan benar.” -Mas Redjo
Apa yang harus kita lakukan, jika libur sehari, tapi diperpanjang jadi dua-tiga hari oleh anak buah? Hal itu terjadi tidak sekali dua, tapi sering kali, dan banyak alasannya.
Diingatkan secara halus, tapi tidak peduli dan cuwek. Apa saya terlalu lemah dan tidak tegas?
Padahal tujuan saya mengingatkan karyawan itu agar pikirannya jadi terbuka dan ia sadar diri. Saya memintanya berpikir, seandainya ia jadi saya. Bagaimana menghadapi karyawan seperti itu. Apalagi, kini ekonomi makin sulit, dan banyak phk. Mencari pekerjaan itu juga sulit. Mengapa ia tidak memiliki rasa bersyukur?
Padahak sebelum libur cuti bersama itu saya mengingatkannya agar hari Senin masuk. Sejak awal mereka bekerja, saya telah memberi tahu, hari libur adalah hari Minggu dan libur Nasional. Toko tidak menerapkan cuti bersama.
Faktanya, ia membuat ulah dan tidak masuk bekerja, karena masih di kampung. Ia kirim WA motornya rusak, dan sedang dibongkar. Ia minta izin hari Senin besok tidak masuk, karena motornya rusak. Jika motor rusak, sebenarnya ia bisa masuk kerja naik kendaraan umum…
Saya bosan mendengar alasannya lagi. Saya langsung membalas WA itu, “Jika libur kurang panjang, sebaiknya kau masuk awal bulan.”
Tujuan saya memberi libur panjang adalah mengingatkan dan memberi pelajaran pada karyawan agar tidak hanya menuntut haknya, tapi melupakan kewajiban dan bekerja semau sendiri. Tidak merasa ahli dan dibutuhkan dalam pekerjaan, tapi sejatinya bekerja itu saling membutuhkan satu dengan yang lain.
Jika ia berniat kerja berarti Senin besok masuk. Jika ternyata malas dan sekadar mencari alasan agar ia berani menerima konsekuensinya. Saya juga harus mencari karyawan baru, karena tidak mungkin saya bergantung padanya.
Saya harus menentukan sikap dan tegas!
Mas Redjo

