“Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat” (Rm 13: 10a).
Kasih kita tidak membutuhkan hukum lain, karena kasih telah mencakup segalanya. Kita akan selalu melakukan kebaikan dan berani berkorban atau melakukan hal yang heroik terhadap mereka yang kita kasihi. Kasih yang tulus itu tidak bersikap egois atau mementingkan diri sendiri, tapi kasih mengajak kita untuk ke luar dari diri sendiri, peduli pada kebutuhan orang lain, mau berbagi, dan mencari cara untuk membangun orang lain.
Yesus dan para Rasul selalu mengajarkan perintah cinta kasih sebagai inti dari hidup rohani. Oleh karena kasih-Nya, Yesus rela menderita sengsara, wafat, dan dimakamkan untuk menebus dosa manusia. Demikian juga para rasul dan para Kudus yang berani menghadapi berbagai kesulitan, tantangan, dan penderitaan demi kasihnya kepada Kristus.
Teladan kasih ini jadi bahan refleksi bagi kita, apakah kita sudah hidup dalam kasih kepada Tuhan dan sesama? Apakah kita membiarkan kasih yang jadi pendorong sikap kita dalam menjalin relasi dengan sesama ataukah tetap mempertahankan keegoisan kita sendiri?
Mari kita senantiasa berdoa dan memohon kepada Tuhan, agar kasih-Nya mengalir dalam hati kita, sehingga kita dapat jadi pribadi yang memancarkan kasih dalam setiap hubungan dan tindakan kita.
Sr. M. Yoanita, P. Karm
Rabu, 05 November 2025
Rm 13: 8-10 Mzm 112: 1-2.4-5.9 Luk 14: 25-33
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

