“Orang yang lari dari kenyataan pahit itu hidupnya tidak tentram. Tapi yang menyukuri ikhlas hati dilimpahi hikmat Tuhan.” -Mas Redjo
YS menunduk lesu, hatinya serasa diaduk-aduk mendengar wejangan Guru Bijak. Semula tekadnya untuk menyepi itu agar hidupnya tenang dan ia mantap hati jadi pendoa bagi kebahagian keluarga. Apalagi, setelah istrinya yang tercinta sudah berpulang ke haribaan-Nya.
Faktanya ia dibilang terburu nafsu, emosi. Persoalan dalam keluarga itu biasa. Tapi jadi luar biasa, dan hal itu suloyo, jika ditanggapi terburu nafsu, tanpa mau mengedepankan kerendahan hati. Sehingga timbul konflik.
Apa pun persoalan atau peristiwa dalam hidup ini, tidak untuk dijauhi, dan ditinggal pergi. Tapi dihadapi dan disikapi dengan bijak agar kita jadi pribadi yang bertanggung jawab.
“Sampai kapan kita mengingatkan anak-anak? Sampai mereka sadar dan memperbaiki kesalahannya?”
Sejatinya, disadari atau tidak, kita sebagai orangtua sering bersikap otoriter, ingin membentuk karakter anak sesuai keinginan orangtua.
Kita lupa, sesungguhnya kewajiban orangtua pada anak itu sekadar mengarahkan, mengingatkan, dan mendoakan mereka yang terbaik.
Coba dicermati Mazmur 139: 13-18 “Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan Ibuku.” Sehingga, saat anak memahami karya penciptaan itu lebih mudah baginya untuk menerima perbedaan di sekitarnya.
Ketika kita menjauhi dan lari dari pengalaman pahit itu, jiwa ini tidak tenang. Sebaliknya kita makin risau, was-was, dan tersiksa.
YS menarik nafas panjang seperti disadarkan dari mimpi panjang. Ia harus berani menerima kenyataan itu untuk berubah dan memahami anak-anaknya.
Sejatinya, hidup doa itu kita tidak harus dengan menyepi di tempat terpencil. Tapi untuk diwujudkan lewat pikiran, perilaku, dan tindakan keseharian agar mukjizat-Nya jadi nyata!
Mas Redjo

