“Dalam keheningan belas kasih, Yesus menyembuhkan apa yang dunia ingin hancurkan.”
Tuhan yang Maha Rahim, ketika hati manusia dipenuhi iri dan niat membunuh, Putra-Mu memilih jalan yang berbeda. Ia tidak membalas, tidak membela diri saat dituduh melanggar hari Sabat, karena menyembuhkan orang. Ia memilih untuk menyingkir dengan tenang, dan terus berbuat baik. Ia tetap setia pada misi-Nya: menyembuhkan yang terluka, menguatkan yang letih, dan mengampuni yang berdosa.
Dalam tindakan Yesus ini, kami melihat gema dari kisah Keluaran: seperti Engkau memimpin umat-Mu ke luar dari Mesir di tengah malam yang sunyi, demikian pula Yesus memimpin kami ke luar dari belenggu dosa, bukan dengan sorak sorai, melainkan dengan belas kasih. Engkau yang membelah laut bagi Israel, kini membuka jalan bagi hati yang remuk dan jiwa yang retak.
Yesus tidak pernah menolak buluh yang terkulai atau memadamkan sumbu yang pudar. Tapi Ia menyembuhkan yang disingkirkan, membebat luka yang tidak terlihat, dan memberikan harapan di tempat di mana rasa malu telah lama tinggal. Dalam Yesus, yang tidak terpikirkan jadi kenyataan: Allah yang bukan hanya jauh di atas, melainkan beserta kami, menyatu dalam penderitaan kami. Inilah Injil. Inilah pengharapan kami.
Sungguh agung belas kasih-Mu, ya Tuhan! Engkau tidak membiarkan yang sudah hancur itu, tapi Engkau menebusnya.
Terima kasih, Bapa, karena Engkau mengutus Putra-Mu yang Kau kasihi “Hamba yang Kau perkenan” yang mengajarkan kami untuk tidak hanya mengenal hukum-Mu, tapi menghidupinya dengan kasih. Biarlah Roh-Nya tinggal dalam kami agar kami tidak mematahkan, melainkan menopang; tidak menghakimi, melainkan mengangkat; dan jadi pembawa penyembuhan di mana pun kami berada. Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.
“Allah tidak memadamkan nyala yang memudar, tapi Ia mengipasinya agar kembali hidup dan bernyala.”
HD
(Bapak Herman Dominic dari paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

