“Dimulai dari keluarga. Dengan menghidupi budaya ‘sapa aruh’ agar kita tidak asing di rumah sendiri.” -Mas Redjo
Sederhana, jika diterapkan dengan hati dan konsisten, dijamin hasilnya luar biasa.
Faktanya, tidak sedikit, bahkan masyarakat kita sudah kehilangan budaya ‘sapa aruh’ itu di dalam keluarganya.
Tidak harus malu untuk mengakui. Adalah langkah bijak dan tidak ada istilah terlambat untuk memperbaiki dan menghidupi budaya itu. Karena kita peduli dengan masa depan anak-anak kita!
Saatnya kita membiasakan ‘sapa aruh’ itu dengan keluarga sendiri. Ayah menyapa Ibu, atau sebaliknya. Juga orangtua kepada anak, dan sebaliknya.
Budaya ‘sapa aruh’ itu dapat kita mulai dengan bertanya hal-hal kecil dan sederhana. Kita mengucapkan selamat pagi, menanyakan perihal tidur semalam, kesehatan tubuh, rencana pulang sekolah, dan seterusnya. Kita saling bertegur sapa, karena peduli dan mengasihi antara satu dengan yang lain.
Dengan menghidupi budaya ‘sapa aruh’ itu kita tidak sekadar peduli dan berempati dengan anggota keluarga. Karena tujuan utama dan penting dari budaya itu adalah kita membangun komunikasi yang baik antar anggota keluarga.
Sebagai orangtua, dengan budaya ‘sapa aruh’, kita mengarahkan dan mengingatkan anak-anak untuk berperilaku sopan santun, tertib, dan menghormati mereka yang lebih tua.
Dengan komunikasi yang baik antar anggota keluarga, kita membangun adab untuk hidup guyup rukun dan damai sejahtera di mana pun kita berada.
Mari kita budayakan ‘sapa aruh’ itu agar bertumbuh subur lingkungan kita.
Mas Redjo

