Lewi! Nama orang yang jadi murid Yesus itu mengingatkan kita, bahwa panggilan kemuridan itu harus dimaknai sebagai hidup baru.
Hidup baru itu tidak dihitung dari usia, dilihat dari asal, dan tidak dipermasalahkan status maupun profesinya. Hidup baru adalah kerinduan dari pribadi yang ingin menemukan jatidiri hidupnya.
Jatidiri itu sungguh murni, tapi membutuhkan proses kesadaran diri yang berbeda-beda waktunya, dan untuk setiap orang itu tidak sama.
Pasti dan tidak pasti waktunya adalah jawaban yang misterius. Sebab kita sungguh tidak tahu tentang hidupmu dan kamu tidak tahu tentang hidupku. Ada ruang yang terbuka dan ada ruang yang tertutup. Ada ruang yang bisa diketahui bersama dan ada ruang yang hanya kuketahui secara pribadi. Ada jalan yang bisa dilewati dan dinikmati bersama dan ada jalan yang hanya bisa dilewati dan dinikmati sendiri, tanpa siapa-siapa.
Lalu, siapakah kita ini? Apakah selama masa Prapaskah ini, kita sudah seperti Lewi, si pemungut cukai yang terpanggil jadi murid Yesus? Atau kita masih dan sedang menunggu giliran panggilan selanjutnya?
Jika menunggu panggilan, apakah Yesus pasti akan lewat? Atau kita sendiri yang harus berdiri, dan segera mencari-Nya?
Jangan ditunda lagi! Sekarang juga kita bangkit untuk mengikuti Yesus, dan jadi murid-Nya.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

