Kita melihat momen penuh kekhusyukan: Tabut Perjanjian yang melambangkan kehadiran Tuhan dibawa ke Bait Suci. Ketika tabut diletakkan di tempat kudus, kemuliaan Tuhan memenuhi rumah itu dalam bentuk awan (1 Raj. 8: 10-11). Peristiwa ini menegaskan, bahwa Allah hadir di tengah umat-Nya, bukan sekadar sebagai simbol, melainkan sebagai sumber hidup dan kekuatan.
Dalam Injil, Yesus hadir langsung di tengah kerumunan orang yang sakit dan menderita. Mereka datang dengan harapan, dan Yesus menyambut mereka dengan kasih: menyembuhkan, memulihkan, dan membawa harapan baru (Mark. 6: 53-56). Kehadiran-Nya bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyentuh dan menghidupkan. Di mana pun Ia hadir, hidup itu berubah.
Allah yang sama, hadir juga dalam hidup kita sekarang. Bukan hanya di tempat ibadah, melainkan juga di rumah, sekolah, tempat kerja, dan di antara orang-orang kecil yang menderita.
Kita dipanggil untuk jadi tempat tinggal Allah: menghadirkan kasih, penghiburan, dan harapan bagi sesama. Kehadiran kita seharusnya membuat orang merasa diperhatikan, bukan diabaikan.
“Ya, Tuhan, jadikanlah hidup kami tempat kediaman-Mu yang memancarkan kasih dan harapan bagi sesama. Amin.”
Ziarah Batin

