“Kenali dan gali potensi anak itu dari barang mainan yang disenangi, lalu diarahkan agar impiannya itu jadi nyata.” -Mas Redjo
Cerita dari Ayah sahabat KN itu terpatri dalam pikiran saya. KN bungsu dari enam bersaudara. Lima saudaranya sudah mentas dan mapan. Bahkan tiga di antaranya bermukim di luar negeri.
Menurut Ayah KN, setiap anak yang berulang tahun itu diajaknya ke toko mainan untuk memilih hadiah yang disenangi dan ditanyai alasan, mengapa tidak memilih mainan lain dan seterusnya.
Dari tanya jawab sederhana sesuai umur dan nalar, anak itu diarahkan ke bidang yang disenangi dengan membelikan mainan dan buku yang jadi hobi dan kesukaannya. Selain untuk mengedukasi, diharapkan anak makin senang dan termotivasi. Sehingga anak mudah diarahkan untuk mewujudkan cita-citanya.
Bagi saya, kisah sukses keluarga KN dalam mendidik anak itu sangat menginspirasi. Orangtua menggali, menumbuhkan, dan menyemai bakat serta hobi anak itu secara edukatif, sehingga terjalin interaksi dua arah yang baik. Anak juga makin rajin belajar dan semangat untuk meraih sukses.
Ternyata faktor utama kisah sukses keluarga KN adalah, orangtuanya selalu mendisiplinkan kebiasaan hal-hal baik dan positif pada anak-anaknya. Sehingga mereka bertumbuh jadi pribadi yang pandai mengelola waktu, mandiri, dan bertanggung jawab.
Dalam mendidik dan membesarkan anak, antara Ayah dan Ibu harus sinkron. Misalnya, karena tidak dibelikan suatu barang oleh Ayah, lalu anak minta dan dituruti Ibu. Tapi Ibu harus mendukung Ayah dengan penjelasan logis, sehingga diterima oleh anak.
“Jangan karena sayang pada anak, orangtua jadi kebablasan. Anak itu diumbar, sehingga kehilangan adab dan etika,” jelas Ayah KN yang adalah mertua saya sendiri. Saya menikahi sahabat KN yang teman les di Ibu Cui, karena “witing tresna jalaran saka kulina.”
Mendisiplinkan kebiasaan baik itu juga saya terapkan dalam mendidik dan membesarkan ketiga anak lelaki saya. Keteladanan baik yang jadi warisan luhur untuk anak cucu tercinta.
Mas Redjo

