| Red-Joss.com | Hingga akhir masa pensiun dan akhir hayatnya, Bapak tetap teguh berpegang pada keyakinannya. Bahwa gaji yang ia peroleh itulah haknya sebagai pekerja dan rezeki dari Tuhan untuk menghidupi keluarga dan membantu orang yang membutuhkan pertolongannya.
Ketika saya kecil, kami tinggal di rumah kontrakan yang berdinding separo kayu dan bambu.
Sore itu Ibu menangis, memohon pada Bapak agar sesekali menerima pemberian ucapan terima kasih dari orang yang memasok barang di proyek yang Bapak pegang. Tapi Bapak diam, dan tak bergeming.
“Tidak untuk Bapak, tapi terimalah itu untuk masa depan anak-anak,” pinta Ibu lirih.
“Anak-anak itu besarnya masih lama, Bu. Mengapa Ibu khawatir dan sekarang menangis…,” kata Bapak sambil tersenyum.
Entah apa yang ada dalam pikiran Bapak, sehingga ia teguh dengan prinsip dan keyakinannya.
Barangkali Bapak terpengaruh oleh seorang tokoh spiritual yang menjadi tempat Bapak belajar ilmu kehidupan.
“Kelak, jika kau dewasa, belum pasti apakah kau akan kaya, sukses, atau berhasil dalam hidupmu. Tapi yang pasti, pada saatnya nanti, kau akan kembali kepada Allah,” nasihat Bapak agar anak-anaknya untuk hidup jujur dan bersikap benar agar takut akan Allah.
Bapak selalu meminta pada kami agar anak-anaknya menapaki dan memantaskan hidup ini dengan hal-hal baik dan positif. Karena hal itu yang akan melayakkan kita, ketika saat kembali (katimbalan) pada Sang Pencipta.
“Suthik lan tansah nyingkiri panggawe ala”
“Ora keno ngengkoki marang kadonyan.”
(Berusahalah senantiasa menjauh dan menyingkir dari hal-hal yang tidak baik.
Janganlah lekat pada hal-hal duniawi).
Dalam tapakan kehidupan Bapak, beliau terus berusaha menghidupi keutamaan sederhana itu agar dapat memantaskan diri, jika saat panggilan untuknya tiba.
Mengenang semua itu aku jadi teringat keyakinan Pak Hoegeng, seorang Jendral Polisi yang pernah kita miliki: “Selesaikan tugas dengan kejujuran, karena kita masih bisa makan nasi dengan garam.”
…
Herry Wibowo

