Bunda Maria dekat dengan semua kalangan
Segala usia langsung jatuh cinta dengan Bunda Maria. Ia hadir untuk membawa pesan damai, penolong bagi yang mengalami kesesakan, penghibur bagi yang mengalami dukacita, dan penyembuh bagi yang mengalami sakit-penyakit.
“Apa yang membuat orang menjadi dekat dengan Bunda Maria, bahkan mempunyai harapan yang tinggi berdoa dengan perantaraannya?”
Karena Allah telah memilih Bunda Maria untuk menjadi teladan hidup kita. Dalam ulasan Majalah National Geographic dikatakan sebagai “Perempuan yang paling berpengaruh di dunia”, ia juga disebut sebagai figur Ibu utama dan penyembuh misterius. Bahkan tidak ada wanita lain di bumi ini yang bisa menginspirasi lewat devosi dan doa-doa yang mengagumkan itu.
Hal ini yang membuat kita jadi makin dekat dengan Bunda Maria dan memohon lewat perantaraannya untuk menghantar doa-doa kita kepada Tuhan.
Semua ini tentu tidak lepas dari sikap Bunda Maria yang menyatu dengan Tuhan: ia menerima Sabda Tuhan dan Sabda itu diterima dalam hatinya dan menyatu dalam tubuhnya, sehingga ia jadi “pelaku Firman yang sangat intimewa”. Pesan-pesan yang disampaikan pun menjadi istimewa. Ada pesan perdamaian, pertobatan, berkat penghiburan, pertolongan, dan pesan kesembuhan.
“Bagaimana caranya agar kita jadi lebih dekat lagi dengan Bunda Maria?”
Pertama: berdoa. Ada banyak sarana yang bisa kita lakukan untuk berdoa melalui Bunda Maria, misalnya Doa Rosario, Novena Tiga Salam Maria, Doa Litani kepada Bunda Maria. Juga bisa berziarah ke tempat–tempat yang dikhususkan untuk Bunda Maria.
Kedua: belajar dari sikap Bunda Maria yang taat akan Sabda Tuhan. Jangan hanya menjadi pendengar Sabda, tapi hendaklah kita menjadi pelaku Sabda Tuhan. Sabda yang kita dengar, masuk dalam hati, dan menyatu dalam tubuh kita.
Ketiga: jangan menyia-yiakan rahmat yang diberikan oleh Tuhan. Apa yang telah kita terima dari Tuhan lewat doa itu harus disyukuri. Jangan bersyukur, ketika mendapatkan yang besar-besar sehingga lupa yang kecil-kecil.
Mengenal Bunda Maria berarti Berani Mengikuti Teladan Hidupnya
Pilihan Bunda Maria untuk mengikuti Tuhan itu pasti tidak mudah. Tapi ia mempunyai kebebasan untuk memilih dan pada akhirnya dia konsisten dengan pilihannya itu. Kadang kita mudah membuat pilihan, tapi tidak konsisten. Sehingga kita dapat belajar dari Bunda Maria.
Tuhan memberikan kepada kita “free will” = kehendak bebas. Kehendak bebas itu tampak dalam pilihan yang kita buat. Orang mengatakan “Life is a choice”.
Ada satu cerita demikian:
Pada suatu hari seorang karyawan datang kepada pemimpin perusahaan dan bertanya mengapa pemimpin itu berhasil memajukan perusahaannya.
Karyawan: Pak, apa rahasia kesuksesan bapak?
Pemimpin: Tiga kata saja
Karyawan: Apa ketiga kata itu?
Pemimpin: Keputusan yang benar
Karyawan: Tapi, Pak … Bagaimana Bapak dapat membuat keputusan yang benar?
Pemimpin: satu kata saja.
Karyawan: apa satu kata itu, Pak?
Pemimpin: Pengalaman.
Karyawan: Darimana Bapak memperoleh pengalaman itu
Pemimpin: Empat kata saja
Karyawan: Apa itu, Pak?
Pemimpin: Dari keputusan yang salah
Bunda Maria telah membuat keputusan yang tepat dengan mengatakan “Fiat” = “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu itu”. Hebatnya, Bunda Maria konsisten akan pilihan yang telah diambilnya itu. Pastinya, ia bergulat juga dalam perjalanan hidupnya, tapi ia tidak menyerah. Inilah yang hendak kita teladani dan kita ikuti jejaknya.
“Apa bentuk paling kongkrit, supaya kita tidak mudah goyah dalam mengambil suatu keputusan?”
Pertama: saat membuat keputusan itu harus ‘sadar’. Lihat, Maria juga sadar: ia masih Muda dan merasa tidak pantas.
Kedua: libatkan ‘suara hati’. Lihat, Maria mendengarkan suara hatinya. Ia mempunyai kualitas yang dimaksudkan oleh Tuhan. Tidak egois.
Ketiga: jawab dengan ‘tegas’. Lihat, Maria sangat tegas. Sekali mengambil keputusan ia tidak berubah-ubah.
Ketempat: siap untuk ‘belajar’. Lihat, Bunda Maria banyak belajar dari Yosep dan Yesus dalam keluarga Nazaret. Tapi yang jelas ia selalu mendengarkan suara Tuhan yang membimbingnya. Maka kita pun harus terus belajar, khususnya belajar dari Bunda Maria.
…
Rm. Petrus Santoso, SCJ

