Erry Amanda
…
| Red-Joss.com | Kita semua tahu berapa besar nyamuk secara umum dan spesies serangga sama dengan keluarga nyamuk yang kita temui di kandang ternak (Jawa dikenal dengan nama ‘mrutu’).
Pernahkah kita mencoba mengamati atau bertanya (dalam hati saja) tentang makhluk mini yang hanya sebesar 1 titik jarum, namun membuat seekor sapi harus mengibaskan ekornya untuk mengusir serangga unyil itu.
Pertanyaannya, baik ‘nyamuk’ atau ‘mrutu’ tersebut: “berapa besar jarum sengat dua makhluk tersebut, termasuk racun yang disuntikkan ke tubuh manusia dan hewan hingga bisa berakibat fatal bagi manusia, DBD dan Malaria.
Bioteknologi
Pernah jugakah kita mencoba membayangkan organ tubuh serangga tersebut? Seberapa besar dan rumitnya jaringan tubuh yang dipergunakan untuk melakukan aktivitas hidupnya.
Semua makhluk itu membutuhkan enerji. Termasuk nyamuk. Kalau tidak mempunyai jantung, paru, kelamin dan seterusnya, lantas pakai apa? Mereka juga butuh udara. Lantas apa yang dipergunakan untuk menyemprotkan udara ke dalam darah?
Bagi orang awam yang tidak berpengetahuan, apalagi tanpa ilmu, jawabnya sederhana. “Itulah Maha Besarnya Allah Subhana wa ta’ala.” Selesai.
Satu lagi, seandainya jenis nyamuk itu bisa hidup seminggu saja, bisakah kita membayangkan bumi ini penuh sesak masyarakat nyamuk. Untung nyamuk ditetapkan hanya hidup 24 jam saja. Selesai kawin, bertelur langsung mati.
Pertanyaannya: “Siapa yang menetapkan umur sesingkat itu.”
Saya tak perlu jawaban, semua pasti tahu.
Nyamuk Rumput
Nyamuk di mukiman manusia, kebutuhan darah cukup dengan menghisap darah manusia. Di rumput mereka menghisap daun rumput lantas diolah dalam tubuh nyamuk untuk jadi darah. Bila demikian, berarti rumput juga mempunyai zat besi.
Dari realitas ini kita bisa memahami, bahwa soal kebutuhan hidup masing-masing penghuni bumi, flora, fauna, manusia, dan seluruh tumbuh-tubuhan sudah disediakan.
Siapa yang menyediakan?
Bagi Agnostik yang saintis, jawabnya: “Alam itu sendiri.”
Nah, jelaskan, sehebat apa pun kecerdasan seseorang, bila dipertanyakan soal ‘Subatimic’ atau ‘substansial hidup dan kehidupan’ mereka tak akan mampu membuat dalil, code ilmiah. Paling hanya Aksiologi, epistemologi, Thesis – antithesis yang tidak berkesinambungan. Juga tidak bisa dibuktikan kecuali diderivat diduplikat, hasil duplikat dari duplikat yang aslinya tak pernah bisa ditemukan.
…

