Saat rasa takut itu mulai muncul dalam diri ini, kita harus mampu mendeteksinya. Jangan dibiarkan rasa takut itu membelenggu dan menguasai kita, sehingga kita jadi lemah dan tidak mempunyai kekuatan untuk bangkit lagi. Kita juga tidak tahu harus berbuat apa, karena sering kali kita jadi panik: ya pikiran dan hati kita. Karena itu kita harus mampu mendeteksi penyebab ketakutan itu.
Faktor penyebab ketakutan itu bisa muncul dari luar dan dalam diri sendiri.
Yang dari luar: ada ancaman, tekanan, pengaruh tertentu dan ada hal-hal yang membuat kita tidak bebas, sehingga rasa takut itu yang datang. Hal ini bisa dilakukan oleh pribadi atau situasi tertentu.
Yang dari dalam: adanya harapan-harapan tertentu yang tidak terwujud. Jika mau disebutkan contohnya banyak sekali. Kita tahu, tapi tidak mempunyai kemampuan untuk mengatasinya. Sehingga yang terjadi, kita membiarkannya atau berusaha mengatasinya. Kedua-duanya tidak mudah, karena dibutuhkan kemauan dan kemampuan yang luar biasa. Jika itu dibiarkan, maka kita akan jadi pribadi yg minder dan tidak percaya diri. Jika mau diatasi berarti kita harus membongkar diri ini, luka-luka batin, pengalaman getir dan kita siap memulai lagi dari titik nol dan akhirnya siap untuk dilahirkan kembali. Kitajadi manusia baru dalam cara pandang yang baru pula.
Banyak juga di antara kita yang membiarkan rasa takut itu, bahkan menyembunyikannya, karena malu diketahui. Biasanya cara seperti ini justru akan membuat hidup ini dibelenggu ketakutan.
Ada juga yg membiarkan rasa takutnya tidak diatasi, tapi dia sendiri tampil seolah-olah tidak ada ketakutan sama sekali dalam dirinya. Kesannya agar orang yang melihat dirinya selalu bahagia. Biasanya cara seperti ini justru akan membuat hidupnya jadi tidak jujur; berkamuflase.
Ada juga orang yang mengubah rasa takutnya itu digunakan sebagai senjata untuk menyerang orang yang berada di sekitarnya itu dianggap tidak ada yang baik. Bahkan karena begitu bencinya orang yang baik dikatakan jahat. Padahal yang jahat adalah dirinya. Biasanya cara seperti ini akan makin memperburuk citranya.
Ada juga yang terjadi, rasa takut itu telah membuatnya jadi boneka. Dia dikendalikan oleh dirinya, khususnya ketakutannya, dan dia tidak pernah menjadi dirinya sendiri. Bahkan dia jadi lupa tentang dirinya sendiri. Hal ini sudah sampai taraf tidak waras, gila, alias gemblung.
Tuhan Yesus hadir dan mengatakan di hadapan kita, “Ini Aku, jangan takut.” Pasti kemudian ada orang yang mengatakan, “Tapi Tuhan, saya sungguh takut.” Tuhan Yesus menjawab, “Ok. Aku mengerti.” Lalu kemudian ada yang bertanya, “Tuhan, bagaimana aku bisa mengatasinya?” Dengan tersenyum, Tuhan Yesus akan menjawab, “Kamu mempunyai Aku. Jangan takut.”
“Yes, we belong to Jesus. He has hand to help us always. He always comes in the perfect time. Just let you know that He is around you.”
Ya, kita ini milik Tuhan Yesus. Dia mempunyai tangan untuk menolong kita. Dia selalu datang tepat pada waktunya. Yang perlu kita sadari adalah bahwa saat ini Dia selalu menyertai kita.
Mengapa masih takut? Asngkatlah wajahmu dan tersenyumlah.
Untuk hidup bahagia, memang harus dipastikan, bahwa kita tidak menyimpan rasa takut di dalam diri ini.
Tuhan Yesus memberkati.
Rm. Petrus Santoso SCJ

