Persiapan dalam masa Adven untuk menantikan kedatangan Tuhan, di antara banyak hal yang dilakukan, ada yang dapat disebutkan di sini ialah mengatasi kelemahan kita sendiri. Kekurangan dalam bentuk sakit fisik dan mental merupakan kelemahan paling umum dalam diri manusia. Penyebabnya adalah berbagai macam jenis kelemahan dari dalam diri sendiri maupun dari luar.
Semua kelemahan di dalam dunia ini bersifat sementara. Misalnya orang yang sakit kanker atau tekanan darah tinggi akan mengalami kebebasannya setelah ia mati. Sesudah kematian ia tidak lagi mengalami lagi kanker atau darah tinggi. Banyak orang dan mungkin Anda sendiri sering mengeluh dan berkata begini: “Sampai kapan kesabaran saya terhadap masalah dan penderitaan yang saya hadapi?”
Adalah sikap umum dari kelemahan kita sebagai manusia, bahwa masalah dan penderitaan itu lebih berat dari pada kemampuan kita. Kelemahan-kelemahan kita sering tampak begitu nyata, sehingga dapat dilihat oleh orang lain. Dengan adanya alat komunikasi yang sangat meluas dan mentalitas orang-orang saat ini untuk menyebarkan informasi secara bebas, kelemahan-kelemahan itu dengan mudah jadi santapan banyak orang. Dengan cara seperti itu, orang yang korban penindasan, pelecehan, atau fitnahan jadi makin menderita. Kelemahan manusia dengan demikian gampang jadi alat penindasan, kekerasan dan mendapatkan keuntungan bagi orang-orang yang memiliki kekuasaan.
Dari sudut pandang iman Kristiani, kelemahan di dalam diri manusia ini harus dapat diperbaiki demi membuat dirinya jadi lebih kuat, positif, dan menjalani hidup yang baik sesuai dengan kehendak Tuhan.
Jika kehendak Tuhan menuntut seseorang untuk setia di dalam doa-doa hariannya dan kewajiban hari Minggu, ia harus mengubah kebiasaan lupa atau kecenderungan untuk bekerja berlebihan, sehingga tidak mempunyai lagi waktu untuk Tuhan.
Iman kepada Tuhan selalu memiliki fungsi untuk memperbaiki kelemahan dan kekurangan manusia, supaya ia dapat mencapai martabat sebagai manusia baru.
Dalam masa Adven ini sangat diperlukan pembaharuan sikap dan kebiasaan yang membuat seseorang terhalangi untuk berbuat baik. Karena manusia sering tidak mampu ke luar dari kelemahannya sendiri, maka kuasa Tuhan sangat diandalkan untuk mengatasi kelemahan itu.
Kitab Nabi Yesaya menegaskan, bahwa Tuhan yang Maha Kuasa memberikan kekuatan kepada mereka yang lemah. Demikian juga Tuhan Yesus Kristus mengundang dan menarik orang-orang yang lemah, letih, dan lesu itu untuk datang kepada-Nya. Ia menyediakan semua kemungkinan untuk membuat mereka kembali segar, kuat, dan pulih.
“Ya, Tuhan, limpahkan rahmat-Mu agar kami dapat membaharui diri dari kelemahan kami, sehingga kami kembali melayani Dikau dan sesama lebih baik lagi. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

