“Orang yang tidak bisa tersinggung dan marah kepada orang lain itu bisa jadi tidak mempunyai hati alias abnormal!”
…
| Red-Joss.com | Maaf, jangan asal menuduh, nyinyir, dan berprasangka jahat seperti itu.
Cobalah refleksi diri agar kita tidak berprasangka jahat dan mudah menghakimi orang lain. Karena kita juga tidak mau dihakimi.
Orang itu yang sulit marah, karena ia mampu mengendalikan dirinya. Bahwa tersinggung, marah, dan sakit hati itu lemahkan diri sendiri. Sehingga mudah terserang sakit.
Jangan pernah beranggapan pula, bahwa mengendalikan diri itu sulit. Karena yang berat dan sulit itu, jika kita malas, tidak mau mencoba, dan melatihnya.
Coba direnungkan saat Yesus jatuh, hingga 3 kali, ketika Dia memanggul salib ke Golgota. Dia bangkit lagi untuk menyelesaikan tugas yang dibebankan Bapa kepada-Nya.
Seharusnya kita belajar dari teladan Yesus untuk mencoba dan terus mencoba, sehingga kita berhasil dan sukses mewujudkan impian kita.
Sekali lagi, jangan beranggapan, bahwa orang yang tidak bisa marah itu ‘abnormal’, dan tidak mempunyai hati!
Sesungguhnya orang itu memiliki hati yang sama seperti kita. Tapi, ia dianugerahi Allah, sehingga piawai mengendalikan diri. Ia memiliki hati yang mengasihi. Untuk memahami, memaafkan, mengampuni, dan mendoakan mereka yang bersalah.
Berbeda dengan kita yang malas belajar dan berlatih mengendalikan diri. Akibatnya, kita emosi, sakit hati, stess, dan mudah sakit.
Alangkah bijak, kita mulai belajar saat ini juga. Resep mengendalikan diri itu sederhana.
Berdoa tiada henti untuk mengubah hati. Baik orang yang didoakan dan hati kita sendiri.
Dengan mendoakan orang lain, kita jadi kuat (Filipi 4: 13). Dengan mengasihi tiada henti kita temukan jatidiri. Karena kita secitra dengan-Nya!
Mengasihi, dan terus mengasihi karena kita sumber kerahiman Ilahi.
…
Mas Redjo

