“Doa itu bukan sekadar meminta, melainkan berani untuk mengasihi dan mempercayai seperti Yesus.”
Kami datang kepada Bapa Surgawi itu bukan hanya untuk memohon, melainkan untuk menjalin relasi yang makin dalam dengan-Nya. Karena di dalam Yesus, kami bukan lagi orang asing, melainkan anak-anak terkasih yang boleh memanggil-Nya: Bapa.
Abraham berdiri di hadapan-Nya dengan kerendahan hati, sebagai ‘debu dan abu’, tapi tetap berani berbicara kepada-Nya. Jika Abraham berani memohon belas kasih-Nya, apalagi kami yang telah diangkat jadi anak melalui Putra-Nya, Yesus yang terkasih.
Ketika Yesus berdoa, hati para murid itu tersentuh. Mereka rindu memiliki kehidupan doa seperti-Nya. “Tuhan, ajarilah kami berdoa,” kata mereka.
Yesus tidak hanya memberi kata-kata, melainkan mengundang mereka juga untuk masuk ke dalam relasi cinta-Nya dengan Bapa.
Sungguh luar biasa: Yesus mengajarkan mereka menyebut Allah sebagai “Bapa.” Bukan dengan ketakutan, melainkan dengan kepercayaan seorang anak. Mungkin Ia menggunakan kata ‘Abba’, seperti seorang anak kecil yang memanggil Ayahnya dengan penuh kasih. Ia berbagi hubungan istimewa-Nya dengan Bapa kepada kami semua. Ini sungguh melampaui segala pengertian!
Tentu saja keberanian seperti ini tidak datang dengan sendirinya. Yesus yang memimpin kami mengenal Bapa yang murah hati, yang lebih penuh kasih dari kasih Ayah manapun di dunia ini. Bapa yang selalu mendengarkan, memahami, dan menjawab doa anak-anak-Nya.
Abraham pun masih belajar mengenal kasih-Mu. Tapi Engkau, ya Tuhan, membimbingnya untuk tetap memohon dengan gigih demi kebaikan sesama. Kini, Yesus mengajarkan kami untuk berdoa dengan ketekunan yang sama dan percaya, bahwa Engkau akan menjawab dengan waktu dan cara terbaik.
Hari ini kami belajar, bahwa jawaban doa sering kali tidak langsung dan instan. Seperti Abraham yang menunggu bertahun-tahun untuk kelahiran Ishak, kami pun belajar sabar dalam pengharapan. Mazmur hari ini menguatkan kami:
“Pada hari aku berseru, Engkau menjawab aku; Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku.”
Terkadang, kekuatan batin inilah yang jadi jawaban pertama dari doa kami.
Bapa, Engkau kaya dalam belas kasih dan pengampunan, dan memanggil kami untuk jadi pembawa kasih dan pengampunan itu bagi sesama. Betapa luar biasa Engkau menyambut kami sebagai anak-anak-Mu!
Terima kasih, Bapa, karena dalam Kristus kami dihidupkan dan dibebaskan. Berilah kami Roh Kudus-Mu, untuk memenuhi seluruh jiwa dan raga kami agar Roh-Mu membentuk kami jadi alat belas kasih-Mu di dunia ini.
Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.
…
HD
(Bapak Herman Dominic dari paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

