Lupakan angka 7 atau 7×77. Kita jangan fokus atau berhenti pada angka itu. Apalagi kita sudah melakukannya sebanyak angka itu. Karena mengampuni dan diampuni itu adalah pengalaman rohani yang tidak bisa diukur dengan angka. Bahkan, ada orang yang tidak bisa melakukannya, baik mengampuni maupun diampuni. Itulah realitas yang terjadi.
Misalnya, tanpa sadar, kita tidak bisa mengampuni seorang hingga waktu lama. Karena perasaan jengkel, benci, dan dendam yang mengakar. Kita sudah berkali-kali datang ke ruang pengakuan dosa. Kita mengikuti seminar Hidup Baru Dalam Roh, Retret Penyembuhan Luka Batin, dan mengikuti nasihat dari gembala, serta sahabat yang bijak. Tapi faktanya kita tidak bisa berubah untuk mengampuni sesama. Bahkan, ada yang berani berterus terang dan mengatakan, “Sudah tidak ada kata maaf baginya. Titik.”
Bagi yang sudah mengatakan hal di atas, pasti bersikap diam, cuwek, dan masa bodoh.
Hubungan jadi renggang, kaku, dan tidak ada kehangatan alias dingin.
Tapi anehnya, jika peristiwa itu diungkit kembali, apinya langsung menyala, membakar, dan menghanguskan.
Sejatinya keputusan itu ada pada setiap pribadi. Kita bertahan dalam kesesakan yang menghimpit dan menyiksa hati, atau siap rekonsiliasi untuk memperbaiki hubungan itu.
Selalu mohon dengan rendah hati kepada Tuhan Yang Maha Baik, sehingga kita mempunyai hati yang berbelas kasih. Ketika mohon belas kasih Tuhan, rasakan kerinduan hati ini agar dilimpahi belas kasih-Nya, sehingga tembok kekerasan hati kita runtuh. Hati kita yang semula keras dan beku itu segera mencair, dan jadi jernih.
Mengasihi sesama itu membahagiakan jiwa!
Rm. Petrus Santoso SCJ

