| Red-Joss.com | Seberat-beratnya jalan mendaki, berliku, curam, dan sulit hingga ke puncak gunung itu dapat dicapai. Tapi lebih berat dan sulit itu, jika kita lewati jalan kasih untuk mengikuti dan meneladani Yesus.
Saya pernah mendaki beberapa gunung, di antaranya Telomoyo, Merapi, Sumbing, dan Gunung Merbabu. Meski berat dan sulit, tapi saya mampu mengatasinya hingga ke puncak. Sedang untuk mengikuti jalan Yesus yang tampak datar itu kaki ini serasa berat dan sulit untuk digerakkan. Saya berjalan terseok-seok, bahkan terkadang saya terpeleset jatuh hingga berdarah-darah. Ternyata untuk mengikuti Yesus itu amat berat dan sulit, jika dibandingkan menaklukkan puncak gunung!
Bagaimana tidak. Untuk sukses mendaki gunung itu dibutuhkan kesiapan phisik, stamina, dan mental. Sedang mengikuti Yesus yang dibutuhkan adalah kesiap-sediaan hati untuk mengasihi sesama.
Semula saya bangga sebangganya, karena dipilih Yesus untuk menjadi murid-Nya. Ternyata meneladani-Nya itu sangat berat dan sulit, jika dibandingkan dengan mendaki gunung, dan hal itu membuat saya jadi malu hati.
“Ampunilah kesalahan kami seperti kami mengampuni yang bersalah kepada kami.”
Kasih, semangat mengasihi sesama itu jalan terterjal dan terberat bagi saya, bahkan bisa juga bagi semua murid Yesus.
Kita mengampuni dan mengasihi sesama tanpa sarat dan tanpa batas.
Ketika dihina, saya sering membela diri. Difitnah teman, saya langsung berontak dan membalas. Dikhianati, saya jadi pembenci dan pendendam.
Padahal, ketika saya menyanggah, berontak, membalas, dan dendam pada orang lain itu memang dada ini terpuasi, karena terlampiasan. Tapi itu hanya sesaat. Sebaliknya, ganjalan di hati itu membuat dada saya menyesak dan sakit. Luka hati itu makin berdarah, perih, dan nyeri sekali.
Tiba-tiba saya tersentak, seperti diingatkan dan disadarkan oleh jalan kasih yang diajarkan Yesus untuk mengasihi sesama. Jika pipi kiri ditampar, berikan pipi yang kanan. Memaafkan 7×70. Bahkan, di atas puncak penderitaan salib itu, Yesus mengasihi dan mendoakan mereka yang menyalibkan-Nya, “Sebab mereka tidak tahu apa yang diperbuat.”
Saya lalu berefleksi diri membenahi dan perbaiki sikap hidup yang keliru itu.
Awalnya sungguh berat dan sulit. Tapi saya belajar dari pengalaman. Ketika dihina, direndahkan, bahkan saat ‘dikuyo-kuyo’ sekalipun, saya tidak berontak atau membalasnya. Sadar diri, sesungguhnya pikiran dan ego kita yang mudah tersulut emosi. Kita tersinggung dan terlukai. Saya belajar untuk mengalah dan rendahkan diri agar saya berjiwa besar untuk berani memaafkan, mengasihi, dan murah hati.
Astaga! Ketika saya melakukan semua itu dengan sadar diri dan ikhlas, hati saya tidak tersinggung atau terlukai. Saya memahami dan mengasihi mereka dengan tulus.
Ketika dilecehkan, direndahkan, didholimi, dan difitnah sekalipun, jika kita membalas dengan kasih, sesungguhnya martabat kita makin ditingggikan.
Mengasihi, jalan kerendahan hati tak bertepi.
…
Mas Redjo
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

