“Jauhi konflik agar tidak disesatkan yang jahat. Utamakan dan dulukan belas kasih, karena kita meneladani Yesus.” -Mas Redjo
Memilih diam, karena mengasihi itu saya lakukan untuk meminimalisasi perdebatan, percekcokkan, konflik, dan apalagi permusuhan. Karena semua itu datangnya dari yang jahat.
Saya menjauhi perdebatan dengan siapa pun dan apa pun yang jadi pokok bahasannya, jika untuk menyombongkan diri, apalagi sok jago dan sok hebat ketimbang yang lain.
Saya lebih senang bertukar pikiran untuk mengembangkan wawasan, pola pikir, dan mencerahkan hati.
Jika teman itu ngotot, sok tahu, dan sok hebat, saya memilih diam tidak menanggapi. Saya mengalah tidak berarti membenarkan, tapi percuma meladeni debat kusir yang tiada guna itu.
Saya menyabarkan diri, karena mengasihinya. Dengan doa ikhlas, saya berharap dia sadar diri, berubah, dan hatinya dicerahkan Allah.
Begitu pula kejadian di sekitar kita dan tebaran berita di medsos. Kita dituntut jeli memilih memilah berita itu dan mengelolanya dengan bijak. Bukan berarti diam itu tidak peduli dengan carut marutnya keadaan, melainkan agar kita tidak merespon secara emosional dan berlebihan, tapi tetap bersikap tenang dan berpikir jernih.
Saya membiasakan diri untuk membaca berita dan hal-hal yang baik, positif, serta mencerahkan pikiran. Saya tidak senang dan tidak tertarik membaca berita perang, hoaks, yang menebar permusuhan, dan kontra diktif itu, karena mencemari pikiran dan hati. Sehingga meresahkan banyak orang dan hidup pun tidak tenang. Lebih bijak itu mendoakan mereka untuk insaf dan demi perdamaian dunia.
Mendisiplinkan kebiasaan berpikir dan berbuat baik, meski kecil dan sederhana itu yang membuat hidup ini tidak ‘kemrungsung’, tapi menep (mengendap), nyaman, dan damai.
Harus disadari dan diakui pula, kita tidak bisa mengubah hati orang lain, kecuali perubahan jadi baik itu dimulai dari pikiran dan hati sendiri. Dengan doa ikhlas, kita mengasihi sesama dan bahagia.
Mas Redjo

