Jangan mengusik orang yang terluka. Karena bukannya kita menyembuhkan luka itu, sebaliknya makin memperlebar dan memperdalam lukanya.
Ada kondisi lain: bagaimana ketika orang-orang terluka berkumpul? Mudah sekali konflik. Mengapa? Karena ada kecenderungan saling melukai.
Oleh karena itu, orang-orang yang terluka itu membutuhkan telinga yang bisa mendengarkan: mempunyai empati dan tidak menghakimi.
Di saat teduh, orang-orang terluka itu didoakan. Kita berdoa memohon kepada Dia yang terluka, karena jantungnya ditembus oleh tombak serdadu di Puncak Kalvari.
Karena luka itu adalah luka pengorbanan diri, maka memancarlah dua sinar: putih dan merah, yang menghadirkan kepenuhan belas kasih.
Benar! Orang-orang yang terluka hanya bisa disembuhkan oleh Dia yang telah memberikan hidup-Nya di Puncak Kalvari.
Di Puncak Kalvari ada kisah yang tercatat:
“Ketika Yesus melihat Ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada Ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu.” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah Ibumu!”
Sejak saat itu murid-murid itu menerima dia di dalam rumahnya” (Yohanes 19: 26-27).
Pengalaman-pengalaman yang terluka itu dibawa turun dari Puncak Kalvari.
Semangat rela berkorban Tuhan Yesus yang harus diteladani oleh para murid-Nya agar kita ikhlas berkorban untuk sesama. Dengan mengasihi, kita memperoleh kebahagiaan sejati.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

