“Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” (Mrk 3:4)
Orang-orang Yahudi menaruh perhatian besar terhadap perintah Hukum Taurat, terutama perintah tentang Sabat. Begitu banyaknya larangan pada hari Sabat, sampai tindakan Yesus yang menyembuhkan orang pada hari Sabat juga dianggap melanggar aturan. Mereka akhirnya jatuh pada sekadar menaati peraturan, dan melupakan tindakan cinta kasih yang jadi dasar dibuatnya hukum dan peraturan itu.
Yesus mengajak kita untuk tidak jatuh pada legalitas semata. Tapi mendahulukan tindakan cinta kasih kepada sesama. Jangan sampai demi mengejar kekudusan dan kesalehan pribadi, kita mengabaikan sesama. Belas kasihan kepada sesama dan usaha mengejar kesalehan pribadi itu hendaknya berjalan beriringan. Kekudusan pribadi yang berakar pada Allah akan selalu mengalir pada kasih kepada sesama.
Kita tidak bisa mengatakan, bahwa kita mengasihi Allah, tapi menelantarkan dan mengabaikan sesama kita.
Ingatlah, bahwa perintah untuk mengasihi Allah diikuti dengan perintah mengasihi sesama. Kepedulian terhadap sesama manusia merupakan bagian dari ibadah dan penghormatan kepada Tuhan.
Sr. M. Kathleen, P. Karm
Rabu, 22 Januari 2025
Ibr 7: 1-3.15-17 Mzm 110: 1-4 Mrk 3: 1-6
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
http://www.renunganpkarmcse.com

