| Red-Joss.com | Beberapa Minggu terakhir ini secara beruntun saya melihat sedemikian dekat, dan merasakan dalam hati realitas derita yang dialami oleh sahabat dan teman yang sangat sulit saya jawab.
“Mas, mengapa orang baik tertimpa musibah?”
Penderitaan adalah realitas paradoksal dalam hidup manusia. Tidak dikehendaki, tetapi sekaligus tidak bisa dihindari. Menderita itu negatif, tidak menyenangkan. Penderitaan akrab dengan hidup manusia.
Harold Kushner, dalam buku klasiknya “When bad things happen to good people” mengatakan God doesn’t have weekly quotas, a list of good people, and a blacklist. Good people are injured, just as often as bad people are.
Penderitaan itu teramat sulit dijelaskan dan menggoda yang tipis-tipis imannya : “Apa gunanya doa, derma, hidup baik, aktif di gereja, kalau tiba-tiba suami, isteri, anak, mendapat musibah tak terduga kena kanker stadium empat misalnya? Bangkrut, ditinggal pasangan, anaknya kena narkoba, terbelit utang besar? Apa gunanya hidup baik dan menyembah Tuhan, jika penderitaan nyatanya bisa menimpa semua orang? Apa untungnya jadi orang baik itu. Kenapa ngga sekalian brengsek saja!
Terhadap fakta penderitaan itu ada begitu banyak upaya refleksi, filosofis maupun teologis. Tetapi jujur saja, penjelasan-penjelasan itu, belum dapat mengurai benang kusut penderitaan.
Untuk sementara saya ajak teman dan sahabat saya itu untuk menggenggam iman mereka seperti perempuan yang telah 12 tahun sakit tidak tersembuhkan, habis harta dan menipis pengharapan. Sama seperti perempuan itu, saya ajak mereka untuk: berjuang dalam hiruk pikuk dan desak-desak (problem hidup dan pertanyaan iman yang tak terurai), merunduk dalam penyerahan: “asal dapat kusentuh saja ujung jubahnya” (tak usah jumpa wajah alias tahu segalanya tentang Dia) maka “saya pasti sembuh” (oleh imannya).
Don’t DELAY until TOMORROW what you can do TODAY!
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

