Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Doa adalah sekeping
harapan yang diberi
sepasang sayap agar ia
dapat tiba di tempat tujuan.”
(Didaktika Hidup Beriman)
Doa adalah sebuah Tarikan dan Hembusan Nafas Hidup Manusia
Siapa yang tak mengenal tradisi untuk berdoa di dalam hidup ini? Apa pun keyakinan dan iman kepercayaan Anda, ternyata tradisi untuk berdoa adalah sebuah aktivitas khas manusia dari berbagai latar belakang agama dan kepercayaan.
Bahkan berdoa adalah sebuah aktivitas tarikan dan hembusan nafas hidup manusia. Anda dan saya, kita perlu selalu berdoa agar dapat hidup. Tanpa memiliki tradisi berdoa, sesungguhnya kita akan mati secara nurani dan rohani.
Dalam tradisi aktivitas bermeditasi, sebuah tarikan nafas disimbolkan sebagai sebuah pengharapan dan sebuah hembusan nafas disimbolkan sebagai sebuah kepasrahan. Inilah sebentuk aktivitas yang sangat personal yang sudah setua usia hidup manusia.
Dalam Lingkup Agama
Di dalam lingkup keagamaan dan keyakinan tertentu, aktus berdoa dimaknakan sebagai sebuah aktivitas yang sangat privat, yakni seseorang sedang berbicara dan atau berkomunikasi dengan Sang Ilahi (Tuhan) sesuai iman kepercayaan tertentu.
Aktivitas berdoa itu adalah sebuah tindakan atau ekspresi iman dan keyakinan personal kepada Tuhan.
Pesan Sang Guru Ilahi
“Berdoalah kamu senantiasa, karena rohmu itu kuat, namun dagingmu itu lemah,” pesan Yesus kepada sang murid, Petrus, si batu karang di malam naas menjelang penangkapan, sengsara, dan wafat-Nya itu.
Mengapa Kita Berdoa
Karena di dalam aktivitas berdoa kita mengomunikasikan isi iman dan keyakinan kita dalam wujud syukur, pengharapan, serta permohonan kepada yang Maha Kuasa. Lewat aktivitas berdoa, kita memperlihatkan sikap kebergantungan, kepercayaan, dan kepasrahan kita kepada Tuhan.
Di satu sisi kita memperlihatkan sikap keterbatasan dan ketakberdayaan, sedang di sisi yang lain kita mengakui dan meyakini akan kedahsyatan serta kemahakuasaan Tuhan.
Tuhan justru sangat berharap agar kita dapat bersikap seperti seorang anak kecil yang polos dan tulus di hadapan-Nya.
Amanat Agung Tuhan
“Mintalah maka kamu akan mendapatkan dan ketuklah, maka pintu pun akan dibukakan bagimu,” sabda Tuhan.
“Jika Bapakmu di dunia tahu, apa yang terbaik yang perlu diberikan kepada anaknya, apalagi Bapakmu yang di Surga.”
Bukankah amanat agung dari Sang Tuhan ini, justru memohon agar kita bersikap tekun, tulus, dan jujur dalam berdoa.
Puncak Tertinggi Doa
“Tuhan, ajarilah kami untuk berdoa,” pinta para murid Yesus. Permohonan yang mengejutkan ini, justru ke luar dari kerinduan hati para murid Yesus sendiri.
“Jika kamu berdoa, maka katakanlah, Bapa Kami yang ada di Surga …,” jawab Yesus.
Yesus menyebut, ‘Bapak kami,’ agar kita tahu kepada siapa kita berdoa. ‘Dimuliakanlah Nama-Mu,’ inilah sebuah untaian kalimat hormat dan pujian. ‘Datanglah Kerajaan-Mu,’ sebuah harapan, dan seterusnya.
Berdoa adalah sebuah ekspresi dari sekeping pengharapan yang diberikan dua buah kepak sayap agar doa kita dapat tiba di tempat tujuan!
“Orate Fraters.”
Wolotopo/Ende, 23 Juni 2025

