| Red-Joss.com | Adalah sifat manusiawi, ketika kita merasa ditinggalkan sendirian oleh pacar, sahabat, atau teman-teman. Apalagi di saat kita sedang jatuh terpuruk, di-phk, usaha bangkrut, dan seterusnya.
Hal yang sama pernah juga dialami Yesus. Ketika di salib, dan di puncak penderitaan-Nya itu berseru, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku (Matius 27: 46).
Merasa ditinggalkan itu manusiawi. Tapi berani menerima kenyataan pahit untuk selalu bersyukur itu kekuatan jiwa agar kita belajar untuk memahami kehendak Allah.
Di puncak salib itu, Yesus memberi teladan pengorbanan jiwa nan tulus ikhlas untuk menebus dosa-dosa kita. Yesus taat dan setia pada kehendak-Nya.
Begitu pula seharusnya dengan kita. Ketika kita jatuh terpuruk dan merasa ditinggalkan oleh orang yang disayangi, sahabat, dan teman-teman.
Kita tidak seharusnya menyalahkan atau mencari kesalahan mereka. Karena hal itu hanya melukai diri sendiri, dan pengalaman pahit itu makin memberati jiwa ini. Tapi agar kita segera bangkit, berbenah, dan mengatasinya.
Karena, sesungguhnya peristiwa itu mengajar kita untuk melihat hikmat di balik kenyataan itu. Kita diajak refleksi diri melihat kelemahan dan kekurangan sendiri agar kita jadi kuat, tabah, sabar, dan rendah hati.
Dengan refleksi diri, kita diajar pula agar tidak melihat seberapa berat dan rumitnya peristiwa hidup itu. Tapi kita diajak untuk makin rendah hati, memiskinkan diri datang pada Tuhan dan mengandalkan-Nya. Seberapa besar persoalan hidup ini, tapi kita memiliki Tuhan yang Maha Besar dan Baik pada kita.
Hidup tanpa direfleksikan sesungguhnya tidak layak dihidupi. Dengan menyangkal diri, kita perbaiki pola pikir, sikap, dan perilaku ini agar tidak menyakiti hati Tuhan dan sesama. Tapi agar hidup kita berkenan bagi kemuliaan-Nya.
Taat dan setia, karena kita milik Tuhan! Selalu mengandalkan-Nya, karena tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya dan mengimani-Nya.
Terpujilah Tuhan!
…
Mas Redjo

