“Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Persoalan datang mendera itu biasa. Yang luar biasa adalah, ketika kita berani mensyukuri hal itu sebagai anugerah Tuhan.” -Mas Redjo
…
Ketika DN didera banyak masalah, ia mudah reaktif dan memprotes Tuhan. “Mengapa harus saya?” Tuhan seperti pilih kasih, dan ia merasa ditinggalkan sendirian.
“Tuhan tidak adil!” kata DN emosi. Karena jengkel ia lalu mengurangi aktivitasnya di lingkungan Gereja, dan mulai menjauhi Tuhan.
Kesadaran DN datang, ketika ia diajak tetangga, TK mengunjungi kakaknya yang sakit menahun. Meski semua aktivitasnya dilakukan di ranjang, tapi wajahnya tampak sumringah seperti tidak sedang sakit.
“Saya sekadar menjalani. Itu, harus disyukuri, Dik. Bersyukur, saya mempunyai keluarga yang amat menyayangi dan tulus merawat,” katanya tenang, dan ikhlas.
Ekspresi keikhlasan itu menggedor kesadaran jiwa DN yang didera banyak masalah.
Benang merah dari kunjungan itu adalah, ternyata ia kehilangan rasa kepedulian pada keluarga. Pikirnya, yang penting adalah kebutuhan keluarga dipenuhi itu semua jadi beres.
Dari sikap ketidakpeduliannya itu jadi bumerang yang harus dibayar mahal. Seorang dari anaknya ditenggarai pemakai narkoba dan berurusan dengan pihak berwajib. Sedang anak bontotnya yang sering berulah itu dikeluarkan dari sekolah.
Di saat terpuruk dalam deraan persoalan hidup, pengalaman DN mengunjungi orang sakit itu telah mencelekkan hatinya dan memberi hikmat. Ia bagai anak hilang yang dijamah Tuhan. Ia bagai tanah liat yang tengah dibentuk-Nya.
“Hidup ini kita sekadar menjalani sesuai kehendak-Nya,” peneguhan kakak teman yang sakit menahun itu makin meneguhkan jiwanya.
‘Duc in altum’, bertolaklah ke tempat yang dalam frasa dari Luk 5: 4 itu menggiring DN agar berani untuk berserah ikhlas pada kehendak Tuhan. Simon yang adalah nelayan handal dan berpengalaman itu semalaman tiada hasil ikan yang ditangkapnya. Ketika ia menuruti Tuhan, jalanya terkoyak dipenuh ikan besar. Bahkan kedua perahu itu nyaris tenggelam.
Mukjizat itu menyadarkan DN agar ia tidak berontak dan menolak untuk menghadapi kenyataan pahit. Tapi untuk berani bersyukur atas penyelenggaraan Tuhan, karena selalu memberi yang terbaik.
Sejatinya dengan hidup berhikmat itu kita diuji untuk berubah jadi baik dan hidup berkenan bagi Tuhan.
…
Mas Redjo

