“A heart filled with anger has no room for love and others.”
– Rio, Scj.
…
| Red-Joss.com | Meluapkan marah, emosi dan rasa tersinggung terasa puas di awal. Di akhir akan meninggalkan luka dan penyesalan yang bekerpanjangan.
Marah itu tidak menyelesaikan masalah, tapi malah memperbesar masalah. Tidak mendekatkan, tapi menjauhkan.
Coba perhatikan, kalau kita marah, orangnya di depan mata. Kenapa nada dan suara menjadi keras, mata melotot, logika dan hati terasa sempit, yang ada di hati ini hanya benci.
Mulai hari ini belajarlah untuk mengendalikan emosi dan bijak untuk tidak marah. Lebarkan kasih dan sabar. Hati yang penuh kasih dan sabar itu tidak mudah terpancing atau memancing emosi orang lain. Tarik nafas dalam dan atur nafas, supaya oksigen lancar menuju otak. Marah pun perlahan pasti terkendali. Kalaupun meluap marah, tapi dengan hati, tanpa melukai.
Stop marah! Marah itu ciri orang yang lemah. Jangan biarkan emosi menguasai diri agar tak ada hati yang dilukai, dan orang yang kita cintai itu berlalu pergi.
Maafkan dengan ikhlas dan cari solusi, karena itu akan membuat damai di hati. Sabar membuat hidup bahagia. Sedang orang yang gampang emosi dan marah itu membuat diri ini lebih menderita.
Penuhi hati dengan kasih dan cinta agar hati ini luas untuk menampung ketidak sempurnaan sesama. Sadari pula, bahwa kita ini manusia biasa yang tidak luput dari salah dan dosa. Jaga hati ini agar tidak melukai. Jaga mulut agar kemarahan tak tersulut. Jaga tindakan agar tak menimbulkan dendam. Maafkan dan ampunilah, maka Tuhan pun akan mengampuni kita.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj
….
Foto Ilustrasi: Istimewa

